Sejumlah kelompok suporter sepak bola dari berbagai negara secara resmi meluncurkan petisi global pada Kamis (20/8/2026) yang menuntut pengunduran diri Gianni Infantino dari jabatannya sebagai presiden FIFA. Langkah ini diambil setelah upaya Infantino untuk menjual keuntungan Piala Dunia kepada investor swasta menuai kecaman luas.
Petisi yang diusung tagar #InfantinOut ini juga menyerukan agar FIFA "dibangun kembali sehingga kebobrokan saat ini tidak akan pernah terulang lagi." Dalam pernyataannya, para penggagas petisi menegaskan bahwa upaya menjual Piala Dunia kepada investor merupakan bentuk pengkhianatan terhadap sepak bola.
"Upaya memalukan oleh satu individu—presiden FIFA sendiri—untuk menjual Piala Dunia kepada investor swasta telah mengungkap pengkhianatan yang tidak akan pernah dilupakan sepak bola," demikian bunyi petisi tersebut, merujuk pada rencana Infantino untuk membentuk perusahaan komersial terpisah yang kemudian ia batalkan setelah mendapat tentangan sengit.
Petisi ini digagas oleh sejumlah organisasi suporter ternama, antara lain Football Supporters Europe, Football Supporters Africa, dan Independent Supporters Council dari Amerika Utara. Selain itu, sekitar 40 kelompok suporter nasional dari berbagai negara juga ikut menandatangani petisi ini.
Meskipun mendapat tekanan besar, Infantino sejauh ini menolak untuk meninggalkan jabatannya. UEFA, badan sepak bola Eropa, telah menyatakan tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Kritik juga datang dari pimpinan CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Namun, tidak semua pihak menentang Infantino. Sejumlah federasi anggota FIFA yang berjumlah 211 itu masih mendukungnya, termasuk Maroko yang menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030, serta Qatar—tempat Infantino pernah tinggal sebelum Piala Dunia 2022—dan Lebanon yang baru saja memberinya kewarganegaraan tahun ini. Sementara itu, Arab Saudi yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 belum secara terbuka mendukung Infantino meskipun memiliki hubungan politik yang erat dengannya.
Dalam petisi tersebut, para suporter juga menyoroti kegagalan kepemimpinan Infantino yang dinilai tidak sejalan dengan tata kelola demokratis. "Gianni Infantino telah menunjukkan kegagalan kepemimpinan yang mendalam, tidak sejalan dengan tata kelola demokratis," tulis petisi. "Konsentrasi kekuasaan di sekitar presiden FIFA, dikombinasikan dengan pengambilan keputusan yang tidak transparan, kultus kepribadian, dan tidak adanya akuntabilitas telah menghancurkan kepercayaan yang tersisa pada badan pengatur dunia."
Petisi itu menegaskan, "Demi kredibilitas FIFA—dan demi masa depan sepak bola—dia harus mengundurkan diri." Hingga berita ini ditulis, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas petisi tersebut.
Kemarahan Suporter terhadap Harga Tiket Piala Dunia
Petisi ini juga menyoroti berbagai kebijakan Infantino yang telah memicu kemarahan suporter, termasuk dukungannya terhadap proyek Liga Super Eropa yang gagal, dorongannya untuk mengadakan Piala Dunia setiap dua tahun yang mendapat perlawanan, serta "kebijakan penetapan harga tiket yang keterlaluan pada Piala Dunia 2026."
FIFA dan Infantino disebut tidak berkonsultasi dengan kelompok suporter sebelum menetapkan harga tiket yang memecahkan rekor untuk turnamen 104 pertandingan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Kebijakan ini memicu kemarahan dan berujung pada penjualan beberapa tiket seharga $60 kepada para penggemar paling setia dari masing-masing 48 tim.
Football Supporters Europe, yang merupakan penghubung resmi suporter dengan UEFA dan memberikan masukan tentang harga tiket untuk Kejuaraan Eropa serta final kompetisi antarklub seperti Liga Champions, menjadi salah satu penggagas utama petisi ini.
Para pengamat menilai langkah petisi ini merupakan eskalasi dari ketidakpuasan yang sudah lama terpendam terhadap kepemimpinan Infantino. Sejak menjabat sebagai presiden FIFA pada 2016, Infantino memang kerap menghadapi kritik terkait gaya kepemimpinannya yang dianggap otoriter dan kontroversial.
Rencana Komersial yang Memicu Kontroversi
Inti dari kemarahan saat ini adalah rencana Infantino untuk membentuk perusahaan komersial terpisah yang akan mengelola hak komersial Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya. Rencana ini dianggap sebagai upaya untuk "menjual" Piala Dunia kepada investor swasta, yang kemudian mendapat tentangan keras dari berbagai pihak, termasuk asosiasi suporter dan federasi sepak bola.
Infantino akhirnya membatalkan rencana tersebut setelah muncul reaksi negatif yang meluas. Namun, langkah pembatalan itu dinilai tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan, sehingga memicu gerakan petisi ini.
Respons Beragam dari Federasi Anggota
Dukungan terhadap Infantino masih terlihat dari sejumlah federasi anggota. Maroko, yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal, secara terbuka mendukung Infantino. Qatar dan Lebanon juga berada di belakangnya. Namun, tidak demikian halnya dengan Arab Saudi, yang meskipun memiliki hubungan dekat dengan Infantino, belum memberikan pernyataan dukungan resmi.
Di sisi lain, UEFA, CONCACAF, dan AFC telah menyuarakan ketidakpercayaan mereka terhadap Infantino. UEFA bahkan secara eksplisit menyatakan tidak memiliki keyakinan lagi terhadap presiden FIFA tersebut.
Tuntutan Rekonstruksi FIFA
Petisi ini tidak hanya menuntut pengunduran diri Infantino, tetapi juga menyerukan reformasi menyeluruh di tubuh FIFA. Para suporter menginginkan adanya tata kelola yang lebih demokratis, transparan, dan akuntabel, dengan pembagian kekuasaan yang lebih merata.
"Kami ingin FIFA dibangun kembali agar kejadian seperti ini tidak pernah terulang," kata salah satu perwakilan kelompok suporter dalam keterangannya. Mereka berharap FIFA dapat menjadi organisasi yang benar-benar mewakili kepentingan sepak bola global, bukan hanya kepentingan segelintir elit.
Sejarah Ketegangan antara Suporter dan FIFA
Hubungan antara suporter dan FIFA memang tidak selalu harmonis. Sebelumnya, suporter sering mengkritik FIFA karena dianggap mengabaikan aspirasi mereka dalam berbagai keputusan penting, seperti perubahan kalender internasional dan format kompetisi.
Proyek Piala Dunia dua tahun sekali, yang digagas Infantino, juga mendapat tentangan keras dari suporter karena dianggap membebani pemain dan merusak keseimbangan kompetisi domestik. Meskipun akhirnya tidak terealisasi, upaya tersebut semakin memperburuk citra Infantino di mata para penggemar.
Harga tiket Piala Dunia 2026 juga menjadi bahan kritik. Banyak suporter yang merasa harga tiket terlalu mahal, terutama untuk pertandingan-pertandingan yang dianggap kurang menarik. Kebijakan ini dinilai tidak berpihak pada suporter setia yang telah mendukung timnya selama bertahun-tahun.
Dampak Petisi bagi Masa Depan FIFA
Belum jelas seberapa besar pengaruh petisi ini terhadap posisi Infantino. Namun, semakin banyaknya suara yang menentang kepemimpinan Infantino dapat memberikan tekanan politik yang signifikan, terutama menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya yang dijadwalkan pada 2027.
Beberapa pengamat memperkirakan bahwa jika tekanan ini terus berlanjut, Infantino mungkin akan menghadapi tantangan serius dalam upayanya untuk terpilih kembali. Namun, dengan dukungan dari sejumlah federasi kuat, peluangnya untuk bertahan masih terbuka lebar.
Reaksi Publik dan Media
Berita tentang petisi ini menjadi sorotan utama di berbagai media olahraga internasional. Banyak warganet yang menyampaikan dukungannya melalui media sosial dengan tagar #InfantinOut, sementara yang lain mengecam petisi tersebut sebagai tindakan yang berlebihan.
Sejumlah analis sepak bola menilai bahwa petisi ini mencerminkan kekecewaan yang mendalam dari para penggemar terhadap arah kepemimpinan FIFA. Mereka berharap FIFA dapat kembali fokus pada pengembangan sepak bola secara global, bukan hanya mengejar keuntungan komersial.
Langkah Selanjutnya
Para penggagas petisi berencana untuk terus menggalang dukungan dari berbagai kalangan, termasuk mantan pemain, pelatih, dan tokoh sepak bola dunia. Mereka juga akan menyampaikan petisi ini secara resmi kepada FIFA dan Dewan FIFA.
Sementara itu, FIFA belum memberikan tanggapan resmi. Namun, dengan semakin besarnya tekanan, bukan tidak mungkin Infantino akan merespons dalam waktu dekat. Hingga saat ini, ia tetap pada pendiriannya untuk tidak mundur dan terus menjalankan tugasnya sebagai presiden FIFA.
Kesimpulan
Peluncuran petisi global yang menuntut pengunduran diri Gianni Infantino merupakan puncak dari ketidakpuasan yang telah lama terpendam di kalangan suporter sepak bola. Rencana kontroversial untuk menjual keuntungan Piala Dunia kepada investor swasta menjadi pemicu utama, tetapi petisi ini juga menyoroti berbagai masalah lain dalam kepemimpinan FIFA.
Dengan dukungan dari banyak kelompok suporter di seluruh dunia, petisi ini menjadi simbol perlawanan terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap otoriter dan tidak akuntabel. Meskipun belum ada tanda-tanda Infantino akan mundur, tekanan yang semakin besar dapat memaksanya untuk mempertimbangkan kembali langkahnya.
Bagi para penggemar sepak bola, petisi ini adalah bentuk perjuangan untuk memastikan bahwa FIFA benar-benar menjalankan mandatnya sebagai badan pengatur sepak bola dunia yang demokratis dan transparan. Masa depan FIFA kini berada di persimpangan, dan keputusan yang diambil oleh Infantino serta federasi anggota akan menentukan arah organisasi tersebut ke depan.
