FIFA dilaporkan tengah menjajaki kemungkinan untuk memperluas Piala Dunia menjadi 64 tim, sebuah langkah yang muncul di tengah gelombang kritik yang ditujukan kepada presiden FIFA, Gianni Infantino, atas rencana kontroversial untuk menjual hak komersial turnamen kepada investor swasta. Wacana ini menjadi sorotan utama dalam beberapa pekan terakhir, memperdalam krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino di kancah sepak bola global.
Menurut laporan terbaru, ide untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia menjadi 64 tim tengah dipertimbangkan oleh FIFA. Jika terealisasi, ini akan menjadi perubahan besar dalam format turnamen paling bergengsi di dunia tersebut. Sebelumnya, Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sudah direncanakan diikuti oleh 48 tim, setelah sebelumnya 32 tim. Dengan demikian, ekspansi menjadi 64 tim akan menggandakan jumlah peserta jika dibandingkan dengan turnamen edisi-edisi sebelumnya.
Langkah ini diyakini sebagai salah satu upaya FIFA untuk meningkatkan pendapatan dan daya tarik komersial turnamen. Namun, pengumuman ini muncul di saat yang tidak tepat, mengingat FIFA sedang menghadapi badai kritik akibat rencana Infantino untuk menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta. Rencana tersebut, yang dikenal sebagai komersialisasi spinoff, akhirnya dibatalkan setelah mendapat tentangan keras dari berbagai pihak.
Rencana Investasi Swasta yang Memicu Kemarahan
Sejak awal tahun, FIFA di bawah kepemimpinan Infantino dikabarkan sedang menjajaki kerja sama dengan investor swasta untuk mendanai berbagai proyek, termasuk ekspansi Piala Dunia dan turnamen-turnamen baru. Namun, kabar tersebut langsung memicu reaksi negatif yang luar biasa dari penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Sejumlah kelompok penggemar sepak bola dari berbagai negara meluncurkan petisi global pada Kamis lalu yang menuntut pengunduran diri Gianni Infantino sebagai presiden FIFA. Petisi dengan tagar #InfantinOut tersebut juga menyerukan agar FIFA dibangun kembali agar 'kekacauan saat ini tidak pernah terjadi lagi'. Dalam pernyataannya, para penggemar menyebut upaya menjual Piala Dunia kepada investor swasta sebagai 'pengkhianatan yang tidak akan pernah dilupakan sepak bola'.
"Upaya memalukan dari satu individu – presiden FIFA sendiri – untuk menjual Piala Dunia kepada investor swasta telah mengungkap pengkhianatan yang tidak akan pernah dilupakan oleh sepak bola," demikian bunyi petisi tersebut.
Petisi ini mendapatkan dukungan luas, termasuk dari Football Supporters Europe (FSE), jaringan penggemar sepak bola nirlaba di Eropa. FSE secara resmi mendukung petisi tersebut dan menyerukan reformasi besar-besaran untuk meningkatkan transparansi di tubuh FIFA. Sejumlah media besar, termasuk Associated Press, melaporkan bahwa petisi tersebut telah ditandatangani oleh puluhan ribu orang dalam waktu singkat.
Tekanan Politik Meningkat di Tubuh FIFA
Krisis ini tidak hanya berlangsung di kalangan penggemar, tetapi juga merembet ke tingkat konfederasi dan pejabat tinggi FIFA. Tiga konfederasi regional – UEFA, AFC, dan Concacaf – dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk mengajukan mosi tidak percaya terhadap Infantino. Hal ini diungkapkan oleh sumber-sumber yang dekat dengan pembicaraan tersebut kepada Reuters.
Langkah ini merupakan respons langsung terhadap keputusan Infantino yang dianggap bertindak sepihak dalam merencanakan penjualan hak komersial Piala Dunia tanpa berkonsultasi dengan Dewan FIFA. Salah satu wakil presiden FIFA yang juga ketua federasi sepak bola Hongaria, Sandor Csanyi, secara terbuka menyatakan telah 'kehilangan kepercayaan' terhadap Infantino. Csanyi bahkan mengkritik rencana investasi swasta yang dilakukan 'secara rahasia, tanpa memberi tahu Dewan FIFA'.
Tak hanya itu, kepala eksekutif Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW), Noel Mooney, juga menyerukan agar Infantino mundur. Ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap Infantino datang dari berbagai sisi, termasuk dari dalam tubuh FIFA sendiri. Bahkan, salah satu wakil presiden FIFA lainnya menggambarkan pemecatan direktur operasi FIFA, Kevin Lamour, sebagai 'gadis yang mematahkan punggung unta', yang memperdalam ketidakpuasan di internal organisasi.
Ekspansi Piala Dunia: Antara Ambisi dan Risiko
Wacana ekspansi Piala Dunia menjadi 64 tim bukanlah hal baru, tetapi keputusan untuk mewujudkannya selalu menuai pro dan kontra. Para pendukung ekspansi berpendapat bahwa penambahan jumlah tim akan memberikan kesempatan lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk berpartisipasi di panggung dunia. Ini sejalan dengan misi FIFA untuk mempopulerkan sepak bola di seluruh dunia.
Namun, banyak pihak yang mengkhawatirkan kualitas turnamen akan menurun seiring bertambahnya jumlah peserta. Selain itu, beban logistik dan infrastruktur bagi negara tuan rumah akan semakin berat, terutama jika turnamen harus digelar di beberapa negara sekaligus. Kritik juga ditujukan pada dampak komersial yang justru akan semakin memperkaya FIFA dan investor swasta, sementara penggemar harus menanggung biaya tiket yang semakin mahal.
Pada Piala Dunia 2026 yang akan datang, FIFA sudah memutuskan untuk memakai format 48 tim. Jika ekspansi menjadi 64 tim direalisasikan untuk edisi berikutnya, ini akan menjadi perubahan yang sangat signifikan. Namun, keputusan tersebut belum final dan masih membutuhkan persetujuan dari Kongres FIFA. Mengingat situasi politik yang sedang memanas, sulit untuk memprediksi bagaimana keputusan ini akan diterima oleh para pemangku kepentingan.
Respons dari Berbagai Pihak
Di luar konfederasi besar, sejumlah federasi nasional juga memberikan respons. Presiden Federasi Sepak Bola Qatar (QFA), Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, misalnya, menegaskan kembali penolakannya terhadap sikap AFC yang dianggap terlalu agresif dalam menekan Infantino. Ia justru menyerukan agar konfederasi mengutamakan konsultasi dengan anggota-anggotanya demi menjaga persatuan regional.
Sementara itu, sejumlah media dan analis sepak bola menyebut bahwa Infantino mungkin mencari pelarian dari krisis dengan mengalihkan perhatian ke turnamen-turnamen lain. Salah satu kabar menyebutkan bahwa ia tengah menjajaki turnamen junior di Republik Dominika sebagai jalur potensial untuk keluar dari masalah. Namun, langkah ini juga menuai kritik karena dianggap tidak menyelesaikan akar permasalahan.
Di sisi lain, Menteri Olahraga dan sejumlah tokoh sepak bola dari berbagai negara mulai angkat bicara. Mereka meminta agar FIFA lebih transparan dan akuntabel dalam pengambilan keputusan. Para penggemar juga semakin vokal menuntut adanya perubahan mendasar dalam tata kelola FIFA.
Masa Depan FIFA di Tangan Kongres
Krisis yang melanda FIFA saat ini merupakan ujian terbesar bagi Infantino sejak ia menjabat pada 2016. Meskipun ia berhasil mempertahankan posisinya dalam beberapa kali pemilihan, tekanan yang ada sekarang berbeda. Petisi global yang menuntut pengunduran dirinya telah menjadi simbol ketidakpuasan yang meluas. Apalagi, dengan adanya wacana mosi tidak percaya dari tiga konfederasi besar, posisi Infantino semakin genting.
Kongres FIFA berikutnya menjadi momen krusial yang akan menentukan masa depan organisasi ini. Para delegasi dari 211 asosiasi anggota akan memiliki kesempatan untuk memberikan suara terkait kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Namun, proses politik di FIFA seringkali tidak sederhana. Dibutuhkan mayoritas suara yang jelas untuk memberhentikan presiden, dan Infantino masih memiliki basis dukungan yang kuat, terutama dari negara-negara berkembang yang mendapatkan banyak manfaat dari program pengembangan FIFA.
Sementara itu, wacana ekspansi Piala Dunia menjadi 64 tim masih belum jelas nasibnya. Meskipun bisa menjadi langkah untuk meredakan ketegangan dengan memberikan lebih banyak kesempatan bagi tim-tim kecil, langkah ini juga berisiko memicu kritik lebih lanjut terkait komersialisasi yang berlebihan. Jika FIFA terus bergerak tanpa transparansi, bukan tidak mungkin krisis ini akan semakin dalam.
Kesimpulan
FIFA saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada keinginan untuk terus tumbuh dan berinovasi, termasuk dengan ekspansi Piala Dunia menjadi 64 tim. Namun, di sisi lain, cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut justru memicu kemarahan publik dan internal. Rencana penjualan hak komersial kepada investor swasta telah menjadi pemicu utama yang menyatukan berbagai elemen penentang Infantino.
Keputusan untuk mundur atau bertahan ada di tangan Infantino, tetapi tekanan yang ada saat ini sangat besar. Para penggemar, media, dan bahkan sejumlah konfederasi regional menginginkan perubahan. Sayangnya, perubahan itu tampaknya sulit terjadi selama Infantino masih berkuasa. Jika ia tidak mampu meredam gejolak ini, bukan tidak mungkin ia akan kehilangan kursi kepresidenannya dalam waktu dekat.
Sementara itu, penggemar sepak bola di Indonesia juga dapat menarik pelajaran dari peristiwa ini mengenai pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam organisasi olahraga. Ketika keputusan diambil tanpa melibatkan pemangku kepentingan, risikonya adalah hilangnya kepercayaan publik. Piala Dunia adalah milik seluruh umat manusia, bukan hanya milik segelintir elit yang duduk di puncak kekuasaan FIFA.
