Stadion Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat dengan logo FIFA

Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memang sukses secara kompetisi, tetapi di balik layar muncul persoalan finansial yang memanas. Sejumlah kota tuan rumah di Amerika Serikat dikabarkan kini tengah menagih FIFA atas bonus yang dijanjikan asosiasi sepak bola dunia tersebut. Laporan yang beredar menyebutkan bahwa FIFA belum membayar sejumlah dana yang sebelumnya telah dikomitmenkan kepada kota-kota penyelenggara, memicu ketegangan di tengah hiruk-pikuk politik internal FIFA yang sedang goyah.

Kabar ini muncul di tengah badai besar yang melanda FIFA. Presiden FIFA, Gianni Infantino, bahkan dilaporkan memanggil para pemimpin senior FIFA untuk menggelar pertemuan darurat di Maroko pada Rabu, 4 Agustus 2026. Pertemuan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap krisis kepercayaan yang semakin meluas, terutama setelah rencana kontroversial untuk menjual mayoritas saham turnamen FIFA kepada investor swasta menuai kecaman dari berbagai federasi, termasuk UEFA, CONCACAF, dan AFC.

Ketegangan Finansial dengan Kota Tuan Rumah

Menurut laporan dari Yahoo Sports, kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat telah mulai menekan FIFA untuk membayar bonus yang dijanjikan. Meski jumlah pasti dan rincian kontrak tidak diungkap secara detail, sumber-sumber internal menyebutkan bahwa dana tersebut merupakan bagian dari paket insentif yang disepakati sebelum turnamen dimulai. Kota-kota seperti Atlanta, Dallas, Houston, Los Angeles, Miami, New York/New Jersey, Philadelphia, San Francisco, Seattle, dan Kansas City telah mengeluarkan biaya besar untuk persiapan infrastruktur, keamanan, dan akomodasi, dan mereka berharap FIFA memenuhi komitmennya.

Seorang sumber dari salah satu kota tuan rumah yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa komunikasi dengan FIFA telah berjalan alot. "Mereka berjanji akan membayar setelah turnamen selesai, tetapi hingga kini kami belum melihat dana tersebut masuk," ujarnya. Keterlambatan pembayaran ini menambah daftar panjang masalah yang dihadapi FIFA, yang saat ini tengah berjuang untuk mempertahankan citra dan kepemimpinannya.

Krisis Kepemimpinan FIFA: Infantino Terpojok

Krisis internal FIFA semakin memuncak. Gianni Infantino, yang sebelumnya digdaya, kini kehilangan dukungan dari banyak pihak. Beberapa federasi besar seperti UEFA, CONCACAF, dan AFC telah secara vokal mengecam rencana penjualan saham turnamen kepada investor swasta. Rencana itu, yang diumumkan secara mendadak, dianggap dilakukan secara diam-diam tanpa konsultasi dengan Dewan FIFA.

Salah satu kritik paling keras datang dari CEO Premier League, Richard Masters. Ia menegaskan bahwa FIFA telah "menekan tombol self-destruct" dengan rencana tersebut. "Ini adalah luka yang ditimbulkan sendiri," ujar Masters. Kritik serupa juga dilontarkan oleh Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW), yang menyerukan Infantino untuk mundur. CEO FAW, Noel Mooney, secara terbuka meminta Infantino lengser.

Tidak hanya itu, Wakil Presiden FIFA asal Hungaria, Sandor Csanyi, juga menarik dukungannya. Csanyi, yang merupakan salah satu dari delapan wakil presiden FIFA, menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino. Ia mengkritik rencana tersebut yang dibuat "secara rahasia, tanpa memberi tahu Dewan FIFA". Dengan mundurnya Csanyi, kini sudah lima wakil presiden FIFA yang berbalik menentang Infantino.

Dampak Politik: Israel Menarik Dukungan

Krisis ini juga berdampak pada peta politik global sepak bola. Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) secara resmi menarik dukungannya terhadap Infantino untuk pemilihan kembali. Dalam surat yang dikirim oleh ketua IFA, Moshe Shino, disebutkan adanya "krisis kepercayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya" dan kurangnya "visi yang tepat" dari kepemimpinan Infantino. Langkah Israel ini menambah daftar panjang federasi yang berpaling dari presiden FIFA.

Sebelumnya, pada hari Selasa, 3 Agustus 2026, ketua AFC juga melancarkan serangan balik terhadap kritik Qatar, yang memperdalam perpecahan dalam sepak bola Asia. AFC, bersama UEFA dan CONCACAF, telah menjadi pengkritik paling vokal terhadap rencana penjualan saham, dan mereka tidak mengendurkan tekanan bahkan setelah rencana tersebut dibatalkan.

Pengunduran Diri Eksekutif Kunci

Infantino juga harus menghadapi pengunduran diri sejumlah pejabat penting. Kevin Lamour, mantan Chief Operating Officer FIFA, telah pergi, dan publik bertanya-tanya apakah kepergiannya akan memicu pengungkapan yang lebih merusak. Selain itu, penasihat khusus Infantino, Carlos Cordeiro, juga mengundurkan diri. Cordeiro dikenal dekat dengan Presiden AS Donald Trump, dan kepergiannya semakin memperumit situasi.

Para pengamat menilai bahwa pengunduran diri ini merupakan sinyal bahwa dukungan terhadap Infantino semakin menipis. Namun, salah satu sekutu Infantino, Véron Mosengo-Omba, tetap yakin bahwa mayoritas kongres FIFA masih mendukung presidennya. Ia mengakui bahwa ia sendiri tidak mendukung rencana penjualan saham, tetapi percaya bahwa Infantino masih memiliki dukungan luas dari asosiasi anggota.

Dampak pada Piala Dunia 2026

Meskipun ada gejolak di dalam FIFA, Piala Dunia 2026 sendiri berjalan sukses. Turnamen yang diadakan di tiga negara ini menarik perhatian global yang luar biasa. Pertandingan pembuka tim nasional AS melawan Paraguay menjadi siaran pertandingan sepak bola paling banyak ditonton dalam sejarah di Amerika Serikat. Tim AS mencatatkan rekor penonton terbesar yang pernah ada untuk pertandingan kandang mereka.

Final Piala Dunia yang digelar pada 19 Juli 2026 mempertemukan Spanyol, juara Euro 2024, melawan Argentina yang diperkuat Lionel Messi. Spanyol keluar sebagai pemenang. Presiden AS Donald Trump hadir di final dan bahkan diketahui memberikan pesan kepada wasit final, meskipun isi pesan tersebut tidak diungkap secara publik.

Namun, kesuksesan di lapangan tidak serta-merta menghapus masalah di luar lapangan. Infrastruktur yang dibangun untuk Piala Dunia membutuhkan biaya besar, dan kota-kota tuan rumah berharap dapat menutupinya dengan pendapatan dari turnamen. Keterlambatan pembayaran dari FIFA tentu menjadi pukulan bagi mereka.

Reaksi dan Prospek ke Depan

Hingga berita ini ditulis, FIFA belum memberikan tanggapan resmi mengenai tuntutan pembayaran dari kota-kota tuan rumah. Sementara itu, pertemuan darurat di Maroko yang dipimpin Infantino diharapkan dapat membahas tidak hanya krisis politik tetapi juga masalah finansial ini.

Di tengah krisis yang berkepanjangan, banyak pihak menyerukan reformasi mendalam di FIFA. Kritikus menilai bahwa gaya kepemimpinan Infantino yang otoriter dan keputusan yang dibuat secara sepihak telah merusak kepercayaan. Rencana penjualan saham yang kontroversial hanyalah puncak gunung es dari masalah yang lebih besar.

Sejumlah federasi, termasuk UEFA, telah lama menginginkan transparansi yang lebih besar dalam pengambilan keputusan FIFA. Mereka juga menginginkan pembagian pendapatan yang lebih adil, terutama untuk turnamen seperti Piala Dunia yang menghasilkan miliaran dolar.

Bagi kota-kota tuan rumah di AS, persoalan ini bukan sekadar soal uang, tetapi juga kepercayaan. Mereka telah berinvestasi besar untuk menyukseskan turnamen, dan mereka berharap FIFA menghormati komitmennya. Jika tidak, hal ini dapat menjadi preseden buruk bagi tuan rumah Piala Dunia di masa depan.

Kesimpulan

Piala Dunia 2026 meninggalkan warisan sepak bola yang luar biasa di Amerika Utara, tetapi di balik kemeriahan tersebut, FIFA kini tengah menghadapi badai besar. Tuntutan pembayaran dari kota tuan rumah AS menambah daftar panjang masalah yang harus diselesaikan Gianni Infantino. Dengan dukungan yang semakin menipis, banyak yang bertanya-tanya apakah Infantino dapat bertahan hingga akhir masa jabatannya.

Pertemuan darurat di Maroko menjadi ajang penting bagi Infantino untuk merespons kritik dan mencoba memulihkan kepercayaan. Namun, dengan semakin banyaknya federasi yang menarik dukungan, masa depannya sebagai presiden FIFA tampak suram. Sementara itu, dunia sepak bola menunggu langkah selanjutnya dalam saga yang penuh intrik ini.

Satu hal yang pasti: krisis ini akan berdampak pada bagaimana FIFA dikelola ke depan, dan mungkin menjadi titik balik bagi transparansi dan tata kelola sepak bola global. Kota-kota tuan rumah yang menjadi tulang punggung kesuksesan Piala Dunia 2026 juga menanti jawaban, berharap FIFA segera memenuhi janjinya.

By qnesx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *