Untuk kedua kalinya dalam sejarah, Spanyol berhasil menjadi juara Piala Dunia. Namun, perjalanan mereka menuju gelar tersebut tidaklah mudah. Gol Ferran Torres pada babak kedua perpanjangan waktu akhirnya memecah kebuntuan, memberi Spanyol kemenangan 1-0 atas Argentina di final Piala Dunia 2026.
Skor tipis atau fakta bahwa pertandingan harus dilanjutkan ke extra time tidak akan sepenuhnya menceritakan betapa dominannya Spanyol pada hari Minggu. Tim Matador menguasai 65 persen penguasaan bola, melepaskan 20 tembakan (12 tepat sasaran), unggul dalam expected goals (1,94-0,22), dan memenangkan sembilan tendangan sudut dibandingkan hanya empat untuk Argentina. Argentina bahkan tidak mencatatkan satu pun tembakan hingga babak kedua perpanjangan waktu.
Mungkin yang lebih mengesankan dari semua itu adalah Spanyol berhasil membuat Lionel Messi menjadi penonton untuk sebagian besar pertandingan, menjadikan pemain GOAT itu tidak berpengaruh dalam jalannya laga. Seperti yang mereka lakukan terhadap Prancis, Spanyol benar-benar menekan Argentina, mengendalikan permainan dan perlahan tapi pasti mematikan lawan mereka.
Argentina bertahan mati-matian untuk waktu yang cukup lama, tetapi gol kemenangan Spanyol terasa tak terhindarkan. Babak pertama berlangsung cukup hati-hati, dengan Spanyol mendominasi penguasaan bola tetapi hanya melepaskan tiga tembakan. Itu sudah tiga lebih banyak daripada yang dimiliki Argentina, karena sang juara bertahan bahkan tidak mendapatkan satu pun tendangan sudut dalam 45 menit pertama.
Babak kedua—setelah istirahat 27 menit untuk pertunjukan paruh waktu FIFA—dimulai dengan sedikit kekacauan: entah bagaimana, meskipun benar-benar terdominasi, Argentina berhasil memaksakan extra time. Namun, mereka harus bertahan dari serangan Spanyol dengan kekurangan satu pemain selama 30 menit tambahan, karena Enzo Fernández diusir keluar pada waktu tambahan babak kedua setelah menerima kartu kuning kedua.
Mencapai perpanjangan waktu adalah keajaiban kecil—Argentina tidak memiliki satu pun tembakan di waktu normal. Spanyol memiliki beberapa peluang di babak pertama perpanjangan waktu dan tampaknya telah mencetak gol kemenangan melalui Nico Williams, hanya untuk dianulir karena pelanggaran. Dan kemudian Mikel Merino nyaris memecah kebuntuan tetapi sundulannya melenceng tipis.
Namun akhirnya Spanyol menemukan momen kejayaan mereka melalui kaki Torres. Argentina berusaha mati-matian untuk mencari gol penyeimbang di menit-menit akhir, mendorong semua pemain ke depan, tetapi kali ini Spanyol yang bertahan dengan gigih dan mempertahankan keunggulan mereka.
Ini adalah kemenangan yang layak—Spanyol tanpa keraguan adalah tim terbaik di Piala Dunia yang brilian. Kemenangan hari Minggu tidak datang tanpa drama, tetapi tim yang pantas menang.
Dominasi Spanyol yang Menyesakkan
Sejak awal pertandingan, Spanyol menunjukkan niat mereka untuk menguasai laga. Formasi 4-3-3 yang diterapkan pelatih Luis de la Fuente berhasil mematikan kreativitas lini tengah Argentina. Pedri dan Gavi di lini tengah bekerja sama dengan apik untuk memotong distribusi bola ke Messi.
Data statistik memang tidak berbohong: selain penguasaan bola yang mencapai 65 persen, Spanyol juga unggul dalam jumlah operan (587 berbanding 312) dan akurasi umpan (89% berbanding 78%). Argentina praktis tidak bisa mengembangkan permainan karena tekanan tinggi yang dilakukan pemain Spanyol.
"Kami tahu bahwa kunci untuk mengalahkan Argentina adalah mengisolasi Messi dari permainan," ujar De la Fuente dalam konferensi pers seusai pertandingan. "Para pemain menjalankan instruksi dengan sempurna. Kami tidak memberi mereka ruang untuk bernapas."
Argentina Bertahan dengan Gigih
Meskipun terus tertekan, Argentina menunjukkan mentalitas juara sejati. Kiper Emiliano Martínez kembali menjadi pahlawan dengan beberapa penyelamatan gemilang. Ia menggagalkan peluang emas Dani Olmo di menit ke-34 dan menepis tendangan jarak dekat Álvaro Morata di awal babak kedua.
Bek tengah Nicolás Otamendi dan Cristian Romero juga tampil tangguh dengan memenangkan duel-duel penting di lini pertahanan. Argentina memang hanya bertahan, tetapi mereka melakukannya dengan disiplin tinggi.
Namun, kartu merah Enzo Fernández di menit ke-90+3 menjadi pukulan telak. Gelandang Chelsea itu mendapat kartu kuning kedua karena pelanggaran keras terhadap Gavi. Dengan keunggulan jumlah pemain, Spanyol semakin percaya diri menekan pertahanan Argentina.
Gol yang Tertunda
Babak pertama extra time berlangsung dengan Spanyol terus mendominasi. Nico Williams sempat mencetak gol pada menit ke-100 setelah memanfaatkan umung silang dari Dani Carvajal, tetapi wasit menganulirnya karena pelanggaran terlebih dahulu oleh Williams terhadap Marcos Acuña.
Mikel Merino nyaris menjadi pahlawan lima menit kemudian ketika sundulannya dari sepak pojok hanya melambung tipis di atas mistar. Argentina mulai kelelahan dan beberapa pemain mengalami kram, tetapi mereka masih mampu bertahan.
Akhirnya, pada menit ke-113, Ferran Torres menjadi pemecah kebuntuan. Menerima umung terobosan brilian dari Pedri, Torres melepaskan tembakan kaki kiri yang melesak ke pojok kanan gawang Martínez. Gol ini membuat para pemain Spanyol dan suporter mereka di stadion histeris.
Messi yang Terbungkam
Salah satu cerita terbesar dari pertandingan ini adalah bagaimana Messi, yang dianggap sebagai pemain terbaik sepanjang masa, benar-benar tidak berkutik. Ia hanya melepaskan satu tembakan yang tidak tepat sasaran dan hanya menyentuh bola sebanyak 38 kali—sangat sedikit untuk seorang pemain sekaliber dirinya.
Bek sayap Spanyol, Jordi Alba, yang sering melakukan overlap, secara khusus mendapat tugas untuk menjaga Messi. Dengan bantuan dari gelandang, ia berhasil memotong ru gerak Messi dan memaksanya mundur ke tengah lapangan untuk mendapatkan bola.
"Messi adalah pemain yang bisa mengubah pertandingan dalam sekejap," kata bek Spanyol, Pau Torres. "Kami harus sangat disiplin dalam bertahan. Saya pikir kami berhasil melakukannya dengan baik."
Kesimpulan
Spanyol layak menjadi juara Piala Dunia 2026. Mereka tampil dominan sepanjang turnamen, mengalahkan tim-tim kuat seperti Jerman di perempat final dan Prancis di semifinal dengan gaya permainan menyerang yang atraktif.
Bagi Argentina, kekalahan ini tentu sangat pahit, terutama karena mereka bermain dengan satu pemain kurang sejak akhir waktu normal. Namun, mereka bisa bangga dengan perjuangan heroik mereka. Messi, yang mungkin ini adalah Piala Dunia terakhirnya, harus puas dengan medali perak.
Ferran Torres, yang mencetak gol kemenangan, dinobatkan sebagai Man of the Match. "Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan," ujarnya. "Saya tidak percaya kami berhasil. Tim ini pantas mendapatkan ini."
Spanyol kini bergabung dengan Uruguay, Italia, Jerman, Argentina, Prancis, Inggris, dan Brasil sebagai negara yang pernah menjadi juara dunia lebih dari sekali. Gelar ini semakin memantapkan posisi mereka sebagai salah satu kekuatan sepak bola dunia.
