Trezeguet bersama Al-Ahly

Pemain sayap Mesir, Mahmoud Hassan 'Trezeguet', tengah bersiap menghadapi babak baru dalam kariernya. Setelah hanya satu musim yang mengecewakan bersama Al-Ahly, klub asal Kairo itu resmi melepasnya pada Selasa lalu. Nama Trezeguet kini dikaitkan dengan Al-Riyadh, klub kasta atas Liga Arab Saudi yang musim lalu nyaris terdegradasi. Namun, di balik peluang baru itu, ada bayang-bayang sejarah kelam: tak banyak pemain Mesir yang sukses di Liga Saudi dalam beberapa tahun terakhir.

Mimpi Buruk di Al-Ahly

Setahun lalu, para pendukung Al-Ahly bermimpi besar. Klub bertabur bintang itu baru saja merekrut Trezeguet dari Trabzonspor, ditambah Ahmed Sayed 'Zizo' dan Mohamed Ali Ben Ramadan. Harapan mengarah pada dominasi ganda: merebut gelar Liga Mesir dan tampil perkasa di Afrika. Kenyataannya, semuanya berantakan.

Al-Ahly kehilangan gelar liga dari rival abadi Zamalek, bahkan finis di posisi ketiga. Akibatnya, mereka gagal lolos ke Liga Champions Afrika musim depan. Di kompetisi Afrika, langkah Al-Ahly terhenti di perempat final setelah dikalahkan Espérance de Tunis. Di Piala Mesir, mereka tersingkir di babak 16 besar oleh tim divisi dua, Wey.

Trezeguet menjadi top skor tim dengan 18 gol dalam 32 pertandingan. Namun, ia justru menjadi sasaran kritik, terutama karena gajinya yang tinggi dan tuduhan menjadi sumber masalah ruang ganti bersama Zizo. Tekanan itu membuatnya bersikeras hengkang.

Langkah Mundur Menuju Al-Riyadh

Pada usia 31 tahun, Trezeguet akan memasuki klub kesembilan dalam karier profesionalnya. Perjalanannya dimulai di Al-Ahly (2012), lalu merantau ke Belgia bersama Anderlecht dan Mouscron, kemudian ke Turki (Kasımpaşa, Başakşehir, Trabzonspor), dan sempat bersinar di Aston Villa (Inggris). Ia juga sempat bermain di Al-Rayyan (Qatar) pada 2024-2025 sebelum kembali ke Al-Ahly.

Al-Riyadh akan menjadi klub Teluk keduanya. Namun, kontras dengan Al-Rayyan yang kerap bersaing di papan atas Liga Qatar, Al-Riyadh adalah tim papan bawah yang musim lalu finis di peringkat ke-15 dengan 30 poin, hanya unggul satu angka dari zona degradasi. Beralih dari tim raja Mesir dan Afrika ke tim yang berjuang menghindari degradasi jelas menjadi tantangan besar.

Sejarah Pemain Mesir di Arab Saudi

Trezeguet akan bergabung dengan daftar panjang pemain Mesir yang pernah merumput di Liga Saudi. Nama-nama seperti Ashraf Qasim, Ahmed Ali (Al-Hilal), Emad Moteab, Kahraba, Hosni Abd-Rabbo, Tarek Hamed, dan Ahmed Hegazi (Al-Ittihad) pernah menghiasi kompetisi ini. Ada pula Mohamed Barakat, Walid Suleiman, Abdullah Al-Said (Al-Ahly Saudi), serta Emad Al-Nahhas, Hossam Ghaly, Hosni Abd-Rabbo (Al-Nassr) di masa lalu.

Namun, sejak era baru sepak bola Saudi dimulai pada 2023 dengan kedatangan bintang-bintang dunia, kehadiran pemain Mesir justru semakin langka. Hanya sedikit yang tampil, dan sebagian besar gagal bersinar.

Kegagalan Pemain Mesir di Era Baru

Ahmed Hegazi dan Tarek Hamed sempat menjadi andalan Al-Ittihad di awal era tersebut, namun keduanya hengkang pada musim panas 2024. Hegazi pindah ke Neom (Liga Yello) dan berhasil promosi, tetapi kemudian pergi. Tarek Hamed bergabung dengan Damak.

Mohamed Sherif bergabung dengan Al-Khaleej pada 2023, tetapi performanya buruk selama dua musim sehingga kembali ke Al-Ahly. Ahmed Hassan 'Koka' direkrut Al-Ittifaq pada musim panas lalu, tetapi cedera menghalanginya, dan ia hengkang tanpa kesan. Nabil Emad 'Dunga' dari Zamalek bergabung dengan Al-Najma pada bursa musim dingin lalu, tetapi gagal menyelamatkan tim dari degradasi.

Kini, Trezeguet berpeluang menjadi satu-satunya pemain Mesir di Liga Roshen musim depan, setelah Dunga terdegradasi, Koka pergi, dan Hegazi hampir kembali ke Mesir.

Bisakah Trezeguet Mematahkan Kutukan?

Trezeguet datang dengan reputasi sebagai pemain sayap enerjik yang pernah mentas di Premier League dan tampil gemilang bersama Timnas Mesir. Namun, statistik menunjukkan bahwa pemain Mesir yang datang ke Liga Saudi pada era ini—terutama di klub papan bawah—jarang berhasil. Faktor adaptasi, tekanan, dan cedera kerap menjadi batu sandungan.

Al-Riyadh bukanlah klub dengan ambisi besar seperti Al-Hilal atau Al-Ittihad, melainkan tim yang berjuang untuk bertahan. Trezeguet harus siap menghadapi gaya bermain yang lebih fisik dan kompetitif, serta ekspektasi tinggi sebagai pemain asing. Jika ia mampu tampil konsisten dan membawa Al-Riyadh ke posisi aman, maka ia bisa menjadi pengecualian dari 'kutukan Mesir'.

Namun, jika gagal, ia hanya akan menjadi nama lain dalam daftar panjang pemain Mesir yang kandas di Arab Saudi. Masa depannya di Liga Saudi, dan mungkin juga di Timnas Mesir, bergantung pada kemampuannya mematahkan tren buruk ini.

Penutup

Trezeguet berada di persimpangan jalan. Setelah mimpi buruk di Al-Ahly, ia mencoba peruntungan di klub yang lebih kecil namun dengan tantangan berbeda. Sejarah tidak berpihak padanya, tetapi sepak bola selalu memberi ruang untuk kisah baru. Musim depan akan menjadi ujian sejati apakah ia mampu menulis ulang narasi, atau justru menjadi korban berikutnya dari kutukan Mesir di Liga Saudi.

Sumber

goal.com

By qnesx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *