Belanda menjadi negara terbaru yang menarik dukungannya terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Dalam pernyataan resmi pada Minggu (16/2), Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) mengaku tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Mereka bahkan menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah pertemuan puncak internasional guna membahas masa depan FIFA.
Langkah KNVB ini menambah daftar panjang federasi nasional yang kecewa dengan kepemimpinan Infantino. Sebelumnya, sejumlah federasi anggota UEFA juga telah menyatakan sikap serupa. Gelombang penolakan ini dipicu oleh rencana kontroversial FIFA untuk menjual hak siar Piala Dunia yang akhirnya dibatalkan, namun meninggalkan luka yang dalam di tubuh organisasi.
KNVB: FIFA Butuh Pemimpin Baru dan Perubahan Fundamental
KNVB dengan tegas menyatakan bahwa FIFA membutuhkan kepemimpinan baru mulai tahun 2027. Namun, mereka menekankan bahwa sekadar mengganti presiden tidak cukup. "Kami percaya FIFA membutuhkan kepemimpinan baru mulai 2027. Tetapi presiden baru saja tidak cukup. Cara FIFA diperintah juga harus berubah," demikian bunyi pernyataan KNVB.
Federasi asal Belanda itu menyoroti konsentrasi kekuasaan yang terlalu besar di tangan presiden FIFA. Mereka menilai tidak ada pemisahan yang memadai antara presiden dan administrasi FIFA. "Kami melihat terlalu banyak kekuasaan terpusat di sekitar presiden FIFA dan kurangnya pemisahan antara presiden dan administrasi FIFA," lanjut pernyataan tersebut.
KNVB juga menyebut proses seputar proposal FIFA Forward Enterprise yang kini ditarik kembali sebagai titik balik bagi mereka. "Menarik proposal itu memang perlu, tetapi itu tidak memulihkan kepercayaan yang telah hilang," tegas KNVB.
UEFA Memimpin Perlawanan
Belanda bukan satu-satunya yang kecewa. UEFA, konfederasi sepak bola Eropa, memimpin gelombang protes terhadap Infantino. Banyak federasi anggota UEFA yang telah menarik dukungan mereka terhadap pria asal Swiss tersebut. Beberapa di antaranya bahkan menyerukan pengunduran diri Infantino. Namun, Infantino sendiri belum memberi sinyal akan mundur.
Visi KNVB untuk FIFA Baru
KNVB menegaskan bahwa diskusi ini tidak boleh hanya berfokus pada Infantino. Pertanyaan kunci yang diajukan adalah: FIFA seperti apa yang dibutuhkan sepak bola? "Ambisi kami jelas: FIFA yang kuat dan kredibel yang menjadi milik sepak bola, melayani anggotanya, dan mengembangkan permainan di seluruh dunia," ungkap pernyataan KNVB.
Penting untuk dicatat, KNVB menekankan bahwa ini bukanlah rencana Eropa untuk dunia. Mereka ingin mengembangkan arah baru bersama dengan 211 Asosiasi Anggota FIFA dan konfederasi dari seluruh dunia.
Tiga Prioritas Utama
Dalam pernyataannya, KNVB membeberkan tiga prioritas yang mereka lihat untuk masa depan FIFA:
- Tata kelola yang lebih baik dengan keseimbangan kekuasaan yang lebih baik.
- Menempatkan kekuatan sosial sepak bola di jantung FIFA.
- Berinvestasi lebih banyak dalam sepak bola di seluruh dunia.
Ketiga prioritas ini, menurut KNVB, harus menjadi fondasi bagi perubahan yang mereka inginkan. Mereka percaya bahwa pemilihan presiden 2027 tidak boleh hanya tentang siapa yang memimpin FIFA. "Pertama, kami perlu menentukan FIFA seperti apa yang kami inginkan. Kemudian kami dapat mengidentifikasi kepemimpinan yang diperlukan untuk mewujudkan perubahan itu," tutup pernyataan KNVB.
Dampak dan Reaksi
Langkah KNVB ini menambah tekanan pada Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret 2027. Meski belum ada pernyataan resmi dari kubu Infantino, kritik yang terus berdatangan menunjukkan ketidakpuasan yang meluas di kalangan federasi anggota.
Beberapa pengamat menilai bahwa langkah KNVB ini bisa menjadi katalis bagi perubahan yang lebih besar. Dengan menawarkan diri menjadi tuan rumah KTT internasional, Belanda menunjukkan keseriusannya untuk mendorong reformasi di FIFA. Namun, pertanyaannya, apakah federasi lain akan mengikuti jejak Belanda?
Hingga saat ini, belum ada tanggapan dari PSSI selaku induk organisasi sepak bola Indonesia. Namun, perkembangan ini tentu menjadi perhatian bagi sepak bola Tanah Air, mengingat Indonesia memiliki sejarah panjang dengan FIFA dan pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 yang batal.
Sejarah Ketegangan antara Infantino dan Kritikus
Infantino, yang pertama kali terpilih sebagai Presiden FIFA pada 2016, telah berulang kali menghadapi kritik terhadap gaya kepemimpinannya. Kasus terbaru adalah rencana penjualan hak siar Piala Dunia yang memicu kemarahan banyak pihak. Rencana itu, yang dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise, akhirnya ditarik kembali, tetapi kerusakan sudah terjadi.
KNVB menyebut bahwa penarikan proposal itu perlu, tetapi tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan. Mereka menekankan perlunya perubahan mendasar dalam tata kelola FIFA.
Kesimpulan
Kritik yang dilontarkan KNVB mencerminkan kegelisahan yang lebih luas di dunia sepak bola. Tuntutan akan transparansi, akuntabilitas, dan keseimbangan kekuasaan semakin menguat. Belanda, dengan tawaran menjadi tuan rumah KTT internasional, berharap dapat memulai dialog yang konstruktif.
Apakah langkah ini akan membawa perubahan nyata bagi FIFA? Waktu yang akan menjawab. Yang pasti, suara Belanda telah menambah bobot pada seruan untuk perubahan kepemimpinan di tubuh organisasi sepak bola terbesar di dunia ini.
Bagi penggemar sepak bola, perkembangan ini penting untuk dicermati. Masa depan FIFA akan menentukan arah sepak bola global, termasuk di Indonesia. Dengan semakin banyaknya federasi yang bersuara, tekanan pada Infantino untuk melakukan perombakan besar-besaran semakin besar. Pertanyaannya sekarang, apakah FIFA akan benar-benar berubah atau justru semakin terkunci dalam status quo yang dikritik?
