Pertandingan final Piala Dunia antara Argentina dan Spanyol pada Minggu sore (18/12) di Stadion MetLife bukan sekadar perebutan gelar juara. Laga itu juga memicu kembali pertanyaan besar: seberapa dekat Lionel Messi dengan timnas Spanyol? Dalam skenario alam semesta lain, mungkinkah Messi berlaga di final dengan seragam merah La Roja, bukan garis-garis biru-putih Argentina?
Masa Kecil Messi di Rosario
Messi tumbuh di rumah sederhana di lingkungan kelas pekerja Rosario, kota hampir 2 juta jiwa di provinsi Santa Fe, Argentina. Di jalanan berbatu dan tanah lapang itulah ia jatuh cinta pada sepak bola. Berjam-jam ia habiskan bermain melawan kakak-kakaknya dan teman-teman tetangga, mengasah kemampuannya menghasilkan keajaiban dengan bola di kaki.
Ketika kabar tentang bocah fenomenal bertubuh mungil namun luar biasa berbakat ini menyebar, FC Barcelona tak hanya menawarkan kontrak, tetapi juga bersedia membiayai pengobatan hormon pertumbuhan yang ia butuhkan. Pada usia 13 tahun, Messi mengemasi barang-barangnya dan pindah ke Spanyol untuk bergabung dengan akademi terkenal La Masia.
Peluang Menjadi Warga Negara Spanyol
Hukum Spanyol memberikan keringanan bagi imigran dari bekas koloni Spanyol atau Portugal: mereka bisa mengajukan kewarganegaraan setelah dua tahun tinggal legal terus-menerus, bukan sepuluh tahun seperti biasa. Hal ini membuka jalan bagi Messi untuk memiliki kewarganegaraan ganda Argentina-Spanyol, dan secara otomatis ia bisa memilih membela timnas mana pun.
Namun, pilihan Messi sebenarnya sudah bulat sebelum ia meninggalkan Argentina. Dalam wawancara cepat bersama harian Rosario, Diario La Capital, pada September 2000, Messi yang berusia 13 tahun menyebut "bermain untuk Argentina" sebagai mimpinya. Ketika ditanya soal dipanggil timnas muda Argentina, ia menjawab, "Saya akan senang membela mereka."
Tak Dipanggil Timnas Muda Argentina
Ironisnya, Messi tidak mendapat kesempatan itu selama bertahun-tahun, bahkan setelah ia menjadi salah satu permata sistem pengembangan Barcelona. Ia adalah bagian dari generasi emas Barcelona yang juga melahirkan Cesc Fàbregas, Gerard Piqué, Marc Valiente, dan Victor Vázquez. Mereka semua membela timnas muda Spanyol di level U15 dan U17. Sementara itu, Messi tidak pernah mendapat panggilan dari pelatih timnas muda Argentina. Jauh di Spanyol, ia seolah hilang dari radar federasi Argentina.
"Tidak wajar jika pemain seperti Leo tidak masuk timnas mana pun," kata Alex Garcia, mantan pelatih muda Barcelona, kepada ESPN. Garcia pun menghubungi pelatih timnas muda Spanyol, Ginés Meléndez, untuk memberi tahu soal Messi. "Ada seorang anak di sini, orang Argentina, tapi mereka tidak memanggilnya. Mungkin ada kemungkinan dia mau bermain untuk Spanyol," kata Garcia.
Upaya Spanyol Merekrut Messi
Meléndez berusaha membujuk Messi agar membela Spanyol di Piala Dunia U17 2003. Benar-benar berusaha. Saat ditanya ESPN apa yang terpikir saat tahu ada prospek sekelas Messi bisa tersedia, Meléndez tertawa dan menjawab, "Entahlah, culik dia."
Spanyol bahkan meminta rekan setim Messi di Barcelona, Cesc Fàbregas dan kawan-kawan, untuk ikut merekrutnya. Di saat yang sama, asisten pelatih timnas Argentina Claudio Vivas mengunjungi Barcelona dalam rangka mengecek pemain senior. Ayah Messi memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatur pertemuan singkat dengan Vivas dan menunjukkan rekaman video sang anak.
Kaset VHS itu, menurut buku "Messi" karya Guillem Ballague (2013), berdurasi 12 menit dan memperlihatkan Messi muda yang mendominasi pemain dua tahun lebih tua. Vivas terkesan dan langsung menelepon pelatih U17 Argentina Hugo Tocalli dari kamar hotelnya di Barcelona, lalu mengantarkan kaset itu langsung ke Tocalli begitu pulang. "Tolong jangan biarkan kesempatan ini terlewatkan, jika kita tidak bertindak cepat, kita akan kehilangan pemain hebat," kata Vivas.
Namun Tocalli tidak memahami urgensi tersebut. Ia tidak memanggil Messi untuk Piala Dunia U17 yang tinggal beberapa pekan lagi. Bukan karena meragukan bakat Messi, katanya, melainkan ia tidak ingin mengganggu skuad yang sudah solid dan mengecewakan pemain yang sudah dijanjikan tempat.
Spanyol akhirnya mengalahkan Argentina di semifinal turnamen itu. Fàbregas, rekan setim Messi di Barcelona, mencetak dua gol termasuk gol kemenangan pada menit ke-119.
Tindakan Terakhir Argentina
Setelah pertandingan, pelatih Argentina José Pékerman mengatakan, "Pemain Spanyol berkata saat bersalaman, 'Jika kalian punya anak itu, kalian pasti juara.'"
Spanyol terus memburu Messi. Dengan Piala Dunia U20 2005 masih dua tahun lagi, Federasi Sepak Bola Argentina akhirnya menyusun rencana untuk mengamankan Messi. Mereka menggelar laga persahabatan internasional U20 melawan Paraguay pada Juni 2004. Pertandingan itu dibuat hanya sebagai alasan untuk memanggil Messi, sehingga Aturan FIFA saat itu mengikatnya secara permanen ke negara kelahirannya.
Di hadapan penonton yang sepi di Stadion Argentinos Juniors, Messi yang berusia 17 tahun masuk sebagai pemain pengganti. Ia membelah dua bek, melewati kiper Paraguay dengan cekatan, dan mencetak gol ketujuh dalam kemenangan 8-0. Momen itu mengukuhkan masa depannya bersama timnas Argentina alias La Albiceleste.
Pengakuan Messi
Awal tahun ini, dalam sebuah podcast bernama Miro De Atras, Messi mengungkapkan bahwa ada peluang nyata baginya untuk memakai seragam Spanyol. Namun, ia menegaskan, "Keinginan saya selalu untuk bermain bagi Argentina."
Kini, pada usia 39 tahun, Messi akan kembali membela Argentina di final Piala Dunia — mungkin untuk terakhir kalinya di panggung akbar itu. Lawan yang dihadapi adalah Spanyol, negara yang pertama kali mengenali potensi besarnya dan berusaha merebutnya. Sebuah pertandingan yang terasa begitu simbolis.
—
Kisah ini mengingatkan bahwa dalam sepak bola, takdir sering kali ditentukan oleh keputusan kecil, tekanan dari berbagai pihak, dan momen yang tak terlupakan. Andai saja Argentina bergerak lebih lambat, mungkin kita akan melihat Messi berseragam merah Spanyol. Namun faktanya, Messi tetap setia pada akarnya dan memberikan segalanya untuk negara yang ia cintai sejak kecil.
Kemenangan apa pun di final nanti tak akan mengubah persepsi bahwa Messi adalah salah satu pemain terhebat sepanjang masa. Namun, kita bisa membayangkan seandainya ia memilih jalan berbeda — bagaimana seandainya ia mengucap 'ya' pada ajakan Spanyol? Itu mungkin menjadi 'what-if' terbesar dalam sejarah sepak bola internasional.
Kini, pada hari Minggu, kita akan menyaksikan babak akhir dari salah satu rivalitas paling menarik di Piala Dunia. Argentina vs Spanyol, Messi vs generasi emas La Roja. Sebuah pertandingan yang layak menjadi panggung terakhir sang legenda.
