Kemarahan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam dunia sepak bola semakin memuncak. Surat kabar Spanyol, AS, pada Minggu (15/12/2024) melancarkan kritik tajam dengan menyebut Trump telah merusak sepak bola dan melampaui batas moral. Tuduhan ini muncul setelah serangkaian insiden yang melibatkan Trump dalam berbagai keputusan FIFA, yang dianggap terlalu mencampuri urusan sepak bola global.
Tuduhan Merusak Sepak Bola
Dalam editorialnya, AS menegaskan bahwa Trump telah memperoleh pengaruh yang kian besar dalam keputusan-keputusan FIFA, hingga melampaui batas minimum dari batasan moral. Media Spanyol itu menulis, "Dan di antara dia dan sepak bola, dunia memilih opsi kedua." Ini menjadi pernyataan tegas bahwa sepak bola harus dijauhkan dari campur tangan politik Trump yang dianggap merusak integritas olahraga.
AS juga menyoroti bagaimana kepresidenan FIFA kini memiliki dimensi politik yang kuat. Mereka membandingkan Gianni Infantino, presiden FIFA, dengan seorang perdana menteri karena kekuatan organisasi yang dipimpinnya. Infantino telah pandai bermain di panggung politik, mulai dari berdampingan dengan Vladimir Putin di Piala Dunia 2018, lalu bersama Emir Qatar dan Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, pada turnamen 2022 dan 2034. Ia juga menjadi sekutu Raja Mohammed VI dari Maroko, yang bersama Spanyol dan Portugal akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030.
Namun, semuanya tampak berjalan mulus hingga Infantino berbenturan dengan Trump, yang seharusnya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Meksiko dan Kanada. AS menyebut bahwa Trump, yang mungkin berasal dari budaya yang jauh dari sepak bola atau karena tidak pernah dihentikan, telah memperoleh pengaruh besar dalam pengambilan keputusan FIFA, melampaui batas moral.
Trump Mengangkat Diri Sebagai Ketua Satuan Tugas
Salah satu tindakan yang menuai kritik adalah ketika Trump mengangkat dirinya sendiri sebagai ketua satuan tugas Piala Dunia 2026, meskipun turnamen tersebut juga menjadi tanggung jawab Meksiko dan Kanada. AS menilai langkah ini sebagai bentuk penguasaan yang tidak pantas, mengubah Ruang Oval dan Gedung Putih menjadi panggung televisi yang bertentangan dengan netralitas sepak bola.
Infantino dan Piala Dunia pun kerap muncul di Gedung Putih, seolah-olah menjadi mainan terbaru Trump. Bahkan Cristiano Ronaldo, yang kedatangannya ke AS sempat tidak pasti karena masalah hukum sebelumnya, akhirnya mengunjungi negara tersebut menjelang Piala Dunia. Keraguan itu sirna, menunjukkan bagaimana pengaruh Trump mampu mengubah keputusan yang seharusnya murni sepak bola.
Infantino Mundur di Hadapan Trump
AS juga menyoroti bagaimana Infantino perlahan-lahan mundur di hadapan Trump. Pada acara Piala Dunia Antarklub, Infantino memanggil Trump ke atas podium untuk memberikan bobot kepentingan yang sama seperti para pemain Chelsea. Padahal, para pemain Chelsea tidak sempat memberi ruang untuk pengambilan foto karena kehadiran Trump. Untungnya, Rodri berhasil mengabadikan fotonya sebelum mengangkat Piala Dunia, gelar kedua bagi Spanyol.
Langkah ini dianggap sebagai bentuk penghormatan berlebihan kepada Trump yang tidak layak. AS mengkritik Infantino karena terlalu tunduk pada tekanan politik, sehingga mengorbankan nilai-nilai sepak bola.
Penghargaan Perdamaian FIFA yang Kontroversial
Puncak dari kontroversi adalah ketika Infantino memberikan Penghargaan Perdamaian FIFA kepada Trump pada undian Piala Dunia di Washington. Langkah ini dianggap mempermalukan sepak bola, karena Trump dinilai tidak pantas menerima penghargaan tersebut, mengingat kebijakan dan sikapnya yang kontroversial. Bahkan, saat acara undian, Trump mendapat jeda-jeda untuk minum air yang sebenarnya adalah jeda iklan, dan pertunjukan berlangsung hampir setengah jam di antara dua babak pada laga final.
Kasus Balogun dan Usulan Penjualan Pendapatan Piala Dunia
Tetes terakhir yang memicu kemarahan adalah kasus pemain Arsenal, Folarin Balogun. Trump mengaku telah melakukan panggilan telepon dengan Infantino untuk mencabut skorsing pemain tersebut dengan cara yang memalukan. Ini menunjukkan campur tangan langsung Trump dalam keputusan disiplin FIFA, yang seharusnya independen.
Selain itu, usulan untuk menjual 20% dari pendapatan Piala Dunia kepada dana-dana yang terkait dengan Trump menjadi pemicu tambahan. Usulan ini dianggap sebagai upaya untuk mengkomersialkan sepak bola demi kepentingan pribadi, melanggar prinsip-prinsip etika.
Respons UEFA dan Opini Publik
Opini publik dan UEFA kini menantikan respons dari Infantino. AS menegaskan bahwa benturan ini tak terelakkan, dan sudah pasti dunia akan memilih sepak bola di antara Trump dan Trump (mungkin maksudnya antara Trump dan Infantino yang dianggap terlalu tunduk). Ini menjadi peringatan keras bahwa sepak bola harus dijaga dari campur tangan politik yang merusak.
Kritik dari media Spanyol ini mencerminkan kekhawatiran luas di dunia sepak bola bahwa integritas olahraga sedang terancam. Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara, di bawah bayang-bayang kepemimpinan Trump, banyak pihak khawatir bahwa kepentingan politik akan mengalahkan keadilan dan sportivitas.
Implikasi Bagi Sepak Bola Global
Serangan telak ini bukan sekadar opini satu media, tetapi menjadi simbol perlawanan terhadap intervensi politik dalam sepak bola. FIFA, yang seharusnya menjadi penjaga netralitas, justru dianggap telah membiarkan Trump mengambil alih kendali. Hal ini bisa berdampak buruk bagi kredibilitas FIFA di mata publik dan anggota asosiasi.
Beberapa pengamat menduga bahwa ketegangan antara FIFA dan UEFA semakin meningkat, karena UEFA dianggap lebih menjaga integritas kompetisi. Benturan antara Infantino dan Trump mungkin juga memengaruhi keputusan-keputusan besar FIFA ke depan, seperti pemilihan tuan rumah Piala Dunia atau kebijakan finansial.
Kesimpulan
Surat kabar AS dengan tegas menyatakan bahwa Trump telah merusak sepak bola dan melampaui batas moral. Dengan berbagai tindakan kontroversial, mulai dari mengangkat diri sebagai ketua satuan tugas, menerima Penghargaan Perdamaian FIFA, hingga campur tangan dalam kasus Balogun, Trump dinilai telah mengubah sepak bola menjadi panggung politiknya.
Kini, semua mata tertuju pada Infantino dan FIFA. Apakah mereka akan bertahan pada prinsip-prinsip sepak bola atau terus tunduk pada tekanan politik? Yang jelas, dunia sepak bola menuntut agar integritas dijaga. Seperti disimpulkan AS, "Di antara dia dan sepak bola, dunia memilih opsi kedua." Sepak bola haruslah tetap menjadi milik semua orang, bukan alat kekuasaan segelintir orang.
