FIFA mengadakan pertemuan krisis di Rabat, Maroko, pada Rabu (6/8/2026) dan menyatakan bahwa para pejabat senior yang hadir memberikan dukungan penuh kepada Presiden Gianni Infantino di tengah gejolak akibat rencana kontroversialnya untuk menjual keuntungan Piala Dunia. Dalam pernyataan resmi, FIFA mengakui adanya kesalahan dalam proses tersebut dan berjanji untuk memperbaikinya, sementara upaya untuk menjual saham melalui anak perusahaan komersial bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) dinyatakan "kini tidak berlaku lagi" atau dibatalkan.
Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafström, yang sebelumnya sempat menjauhkan diri dari rencana Infantino, justru hadir dalam pertemuan tersebut dan menegaskan dukungannya kepada presiden. Grafström sebelumnya mengirim surel ke seluruh staf FIFA yang menyebut rangkaian kejadian pekan lalu sebagai "serangkaian peristiwa yang menyedihkan dan tercela". Namun, dalam pertemuan di Rabat, ia bersama anggota dewan manajemen lainnya menyatakan solidaritas kepada Infantino. FIFA juga menyebut Infantino kembali menegaskan dukungannya kepada sekretaris jenderal.
Langkah ini diambil setelah adanya kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk asosiasi liga-liga Eropa yang menuntut reformasi tata kelola FIFA. European Leagues, yang mewakili liga-liga seperti Premier League, La Liga, dan Serie A, menyebut proposal FFE sebagai "berbahaya" dan menunjukkan masalah mendasar dalam cara FIFA beroperasi. Mereka juga menolak kemungkinan perluasan Piala Dunia menjadi 64 tim dan menuntut agar FIFA tidak terus mengambil keputusan sepihak yang mengganggu.
Legenda sepak bola Portugal dan Real Madrid, Luis Figo, juga menyerukan Infantino untuk mundur, dengan mengatakan bahwa ia telah "merendahkan jabatan". Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan tidak lagi percaya kepada Infantino, menyebut kegagalannya berkonsultasi dengan penasihat senior sebagai "fatal" dalam tata kelola.
FIFA membantah laporan media Inggris yang menyebut Infantino menawarkan tuan rumah final Piala Dunia 2030 kepada Maroko sebagai imbalan dukungan. Juru bicara FIFA menegaskan tuduhan tersebut "salah dan menyesatkan" serta keputusan akan diambil pada waktunya.
Pekan yang penuh gejolak ini telah menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan kepresidenan Infantino menjelang pemilihan Maret mendatang. UEFA, sebagai badan sepak bola Eropa, memberikan tekanan paling besar dengan mengancam boikot Piala Dunia jika FFE dilanjutkan. Meskipun Infantino telah mundur, UEFA tetap menyatakan kehilangan kepercayaan pada kepemimpinan FIFA. CONCACAF juga menuduh kepemimpinan FIFA "berhenti mengutamakan sepak bola".
Di dalam organisasi, terlihat tanda-tanda perpecahan. Kepala pengembangan sepak bola global Arsène Wenger menjauhkan diri dari rencana FFE, penasihat senior Infantino Carlos Cordeiro mengundurkan diri pekan lalu, dan chief operating officer Kevin Lamour mengatakan staf "tertipu" oleh kurangnya keterbukaan presiden.
Infantino sendiri berupaya memenangkan masa jabatan keempat dan terakhir pada pemilihan Maret. Pertemuan di Rabat nampaknya merupakan upaya untuk menyatukan kembali internal FIFA dan menunjukkan bahwa ia masih memiliki dukungan. Namun, kritik yang terus berlanjut dan tuntutan reformasi menunjukkan bahwa jalan menuju pemilihan tersebut masih penuh tantangan.
FIFA dalam pernyataannya mengakui kesalahan dalam penanganan rencana FFE. "Kesalahan yang dibuat diakui dan proses seharusnya ditangani secara berbeda," kata pernyataan itu. FIFA juga menyebut telah mengirim surat permintaan maaf kepada Dewan FIFA dan asosiasi anggota, serta berkomitmen untuk memastikan hal serupa tidak terulang.
Meskipun demikian, European Leagues tetap menuntut perubahan mendasar. Mereka menyatakan bahwa "FIFA membutuhkan reformasi tata kelola yang memastikan semua pemangku kepentingan memiliki peran formal dalam keputusan yang membentuk masa depan sepak bola kita". Mereka juga menolak perluasan atau penciptaan kompetisi FIFA sampai ada reformasi.
Sikap tegas UEFA dan liga-liga Eropa menjadi ancaman serius bagi Infantino. Ancaman boikot Piala Dunia adalah langkah ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menunjukkan betapa seriusnya krisis ini. Bahkan setelah Infantino mengalah, UEFA tidak serta merta memulihkan kepercayaan.
Pertemuan di Rabat sendiri dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Mattias Grafström dan anggota dewan manajemen. Mereka menegaskan dukungan penuh kepada Infantino, sebuah sinyal bahwa pimpinan puncak FIFA tetap solid di belakang presiden. Namun, dukungan internal ini mungkin tidak cukup untuk meredam kritik eksternal yang terus berdatangan.
Krisis ini dimulai ketika rencana Infantino untuk menjual keuntungan Piala Dunia melalui FFE bocor ke publik. Rencana tersebut dianggap tidak transparan dan berpotensi merusak integritas FIFA. Banyak pihak khawatir bahwa menjual keuntungan turnamen kepada investor swasta akan mengalihkan keuntungan dari pengembangan sepak bola global ke kantong pribadi.
Infantino, yang telah memimpin FIFA sejak 2016, sebelumnya juga terlibat dalam berbagai kontroversi. Penyelidikan kriminal di Swiss terkait pertemuan rahasia dengan jaksa agung, penggunaan jet pribadi, dan berbagai isu lainnya telah menodai reputasinya. Meskipun ia selalu membantah kesalahan, tekanan publik terus meningkat.
Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027, dan Infantino diharapkan mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat. Namun, dengan adanya krisis ini, masa jabatannya menjadi tidak pasti. Beberapa pihak mulai membicarakan kandidat alternatif, meskipun belum ada yang secara resmi mengumumkan pencalonan.
Dalam pertemuan tersebut, FIFA juga mencoba untuk meredam isu tuan rumah final Piala Dunia 2030. Spanyol, Portugal, dan Maroko menjadi tuan rumah bersama, dan ada persaingan antara Maroko dan Spanyol untuk menjadi tuan rumah final. Maroko berharap final diadakan di Stadion King Hassan II yang direncanakan berkapasitas 115.000 kursi di dekat Casablanca, sementara Spanyol memiliki dua kandidat stadion, yaitu markas Real Madrid dan Barcelona.
FIFA membantah bahwa Infantino telah membuat janji kepada Maroko. "Adalah salah dan menyesatkan untuk mengklaim bahwa presiden FIFA telah membuat janji apa pun terkait tuan rumah final Piala Dunia 2030," kata juru bicara FIFA. "Keputusan akan diambil oleh FIFA pada waktunya."
Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang sebelumnya sering tampil bersama Infantino pada ajang Piala Dunia 2026 yang diadakan di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat, kini menyatakan tidak percaya pada Infantino. Carney mengatakan bahwa kegagalan Infantino berkonsultasi dengan penasihat senior adalah kesalahan tata kelola yang "fatal".
Pernyataan Carney menambah daftar panjang tokoh yang mengkritik Infantino. Sebelumnya, beberapa pejabat tinggi FIFA juga menunjukkan ketidaksetujuan mereka. Arsène Wenger, yang menjabat sebagai kepala pengembangan sepak bola global, menjauhkan diri dari rencana FFE. Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino, mengundurkan diri. Dan Kevin Lamour, chief operating officer, mengatakan staf merasa "tertipu" oleh kurangnya keterbukaan presiden.
Semua ini menunjukkan bahwa krisis kepemimpinan di FIFA tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam. Meskipun pertemuan di Rabat berhasil menunjukkan dukungan internal, pertanyaan tentang kepercayaan dan transparansi tetap menghantui Infantino.
FIFA dalam pernyataannya berusaha menenangkan situasi dengan mengatakan "selalu ada pelajaran yang bisa dipetik, dan FIFA akan terus memperbaiki prosesnya berdasarkan pengalaman ini". Namun, kritik terus berlanjut.
European Leagues, dalam pernyataannya, menekankan bahwa "sekarang lebih dari sebelumnya, FIFA membutuhkan reformasi tata kelola". Mereka juga menyoroti bahwa keputusan seperti perluasan Piala Dunia tidak boleh diambil secara sepihak tanpa konsultasi dengan pemangku kepentingan.
Tuntutan reformasi ini sejalan dengan seruan dari berbagai pihak selama bertahun-tahun. Banyak yang menganggap FIFA terlalu otoriter dan kurang transparan. Kasus FFE ini menjadi contoh nyata bagaimana keputusan besar dibuat tanpa melibatkan pihak lain.
Di tengah semua tekanan ini, Infantino tampaknya masih yakin bisa bertahan. Dukungan dari Grafström dan dewan manajemen di Rabat memberinya harapan. Namun, apakah dukungan internal cukup untuk menghadapi badai kritik eksternal? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Pemilihan presiden FIFA pada Maret akan menjadi ujian akhir bagi Infantino. Jika ia berhasil memenangkan masa jabatan keempat, ia akan memimpin FIFA hingga 2031. Namun, jika krisis ini semakin dalam, ia bisa saja kehilangan kursinya.
Sementara itu, dunia sepak bola menunggu dengan cemas. Keputusan FIFA akan berdampak besar pada masa depan olahraga ini. Apakah FIFA akan berubah menjadi lebih transparan dan demokratis, atau tetap terkunci dalam kekuasaan satu orang? Pertanyaan ini masih menggantung.
Pertemuan krisis di Rabat mungkin berhasil meredakan ketegangan untuk sementara, tetapi masalah mendasar tetap ada. FIFA perlu membuktikan bahwa mereka serius melakukan reformasi. Jika tidak, krisis serupa akan terus berulang di masa depan.
Satu hal yang pasti: tekanan terhadap Infantino tidak akan hilang dalam waktu dekat. Para kritikus, terutama dari Eropa, akan terus mengawasi setiap langkahnya. Dan dengan pemilihan yang semakin dekat, Infantino harus bekerja keras untuk mempertahankan posisinya.
Bagaimana pun, sepak bola adalah olahraga global yang harus dikelola dengan baik. FIFA sebagai badan pengatur tertinggi harus menjadi contoh dalam tata kelola yang baik. Jika tidak, kepercayaan publik dan pemangku kepentingan akan semakin terkikis.
Krisis ini juga menunjukkan bahwa sepak bola tidak bisa lepas dari politik. Keputusan-keputusan di FIFA sering kali dipengaruhi oleh kepentingan politik dan bisnis. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi upaya reformasi.
Namun, ada juga harapan bahwa krisis ini bisa menjadi momentum untuk perubahan. Banyak pihak yang menginginkan FIFA yang lebih transparan, akuntabel, dan inklusif. Jika tuntutan reformasi ini didengarkan, sepak bola global bisa menjadi lebih baik.
Kini, semua mata tertuju pada FIFA dan Infantino. Akankah ia bertahan atau jatuh? Jawabannya akan segera terungkap dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi para penggemar sepak bola, krisis ini mungkin terasa jauh. Namun, dampaknya bisa dirasakan di semua level, dari Piala Dunia hingga liga domestik. Karena itu, penting untuk terus mengikuti perkembangan ini.
Semoga FIFA bisa keluar dari krisis ini dengan lebih kuat dan lebih baik. Dan semoga sepak bola tetap menjadi olahraga yang adil, jujur, dan menyenangkan bagi semua.
