Gelandang Spanyol, Gavi, angkat bicara terkait penyelidikan FIFA terhadap keributan yang terjadi usai final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina. Dalam wawancaranya dengan ESPN, pemain Barcelona itu menyatakan bahwa para pemain Argentina, termasuk Leandro Paredes, seharusnya tidak mendapatkan hukuman tambahan dari FIFA.
Gavi memahami bahwa tindakan kekerasan tidak boleh dicontoh, namun ia menilai insiden tersebut adalah bagian dari emosi dalam pertandingan. "Saya sadar itu tidak memberi contoh baik bagi anak-anak, tapi ada sisi sepak bola yang agak lebih keras," ujarnya dikutip dari Adriana Garcia dari ESPN. "Mungkin hal yang paling logis, menurut saya, adalah kartu merah saat pertandingan dan selesai. Tapi pada akhirnya, saya pikir semua ini bagian dari sepak bola dan begitulah seharusnya."
Keributan terjadi setelah wasit meniup peluit panjang kemenangan Spanyol 1-0 atas Argentina di final Piala Dunia 2026. Paredes terlihat mendekati bek Spanyol Eric García dan meletakkan tangannya di leher García. Gavi yang datang membela rekan setimnya justru didorong hingga jatuh.
FIFA telah mengonfirmasi bahwa mereka membuka penyelidikan resmi terkait insiden tersebut. "Setelah evaluasi laporan pertandingan yang relevan untuk final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina, dan sesuai dengan pasal 36 Kode Disiplin FIFA, Komite Disiplin telah menunjuk Jaksa Disiplin dan Etika untuk menyelidiki potensi pelanggaran Kode Disiplin FIFA terkait insiden pasca pertandingan," demikian pernyataan FIFA. Detail lebih lanjut akan diumumkan setelah laporan jaksa selesai.
Paredes bukan satu-satunya pemain Argentina yang disorot. Video yang beredar menunjukkan Nahuel Molina diduga memukul Eric García dan pemenang Ballon d'Or, Rodri.
Gavi menambahkan bahwa tindakan seperti itu adalah risiko yang harus diterima dalam sepak bola. "Kadang emosi memuncak, apalagi di final Piala Dunia. Tapi saya rasa tidak perlu ada hukuman di luar lapangan. Cukup selesaikan di dalam pertandingan," kata Gavi.
Pernyataan Gavi ini tentu menjadi perdebatan. Sebagian pihak menganggap FIFA harus tegas untuk menjaga citra sepak bola, sementara yang lain sepakat bahwa emosi di lapangan adalah bagian dari pertandingan.
Terlepas dari itu, penyelidikan FIFA masih berlangsung. Keputusan akhir akan diambil setelah jaksa menyelesaikan laporannya. Publik sepak bola dunia menanti apakah Argentina akan mendapat sanksi atau tidak.
Gavi sendiri mengaku tidak dendam dengan insiden tersebut. "Itu sudah berlalu. Kami juara dan itu yang terpenting. Saya harap FIFA bisa melihat dari sudut pandang pemain," pungkasnya.
