Pertandingan tim nasional Amerika Serikat (USMNT) melawan Belgia pada Selasa (11/6) lalu tidak hanya berakhir dengan kekalahan telak 4-1, tetapi juga diwarnai skandal internal. Dua pejabat tinggi Sepak Bola AS dilaporkan telah diskors oleh FIFA sebelum laga tersebut. Kantor berita Front Office Sports mengungkapkan bahwa manajer tim Sam Zapatka dan wakil presiden keamanan Frank Pannell menjadi sasaran sanksi tersebut.
Hingga saat ini, alasan pasti di balik skorsing kedua ofisial itu belum diketahui secara resmi. Juru bicara Sepak Bola AS hanya mengonfirmasi adanya sanksi tersebut dan mengarahkan pertanyaan lebih lanjut kepada FIFA. Namun, FIFA enggan memberikan komentar. Spekulasi mulai muncul bahwa skorsing ini mungkin terkait dengan kontroversi yang melibatkan penyerang Folarin Balogun.
Kontroversi Balogun dan Keterkaitan Skorsing
Folarin Balogun menjadi pusat perhatian setelah menerima kartu merah dalam kemenangan USMNT 2-0 atas Bosnia dan Herzegovina pada Rabu pekan sebelumnya. Awalnya, ia dijatuhi larangan bermain satu pertandingan. Namun, FIFA membatalkan larangan tersebut beberapa hari kemudian, membuat Balogun bisa tampil melawan Belgia. Keputusan itu menuai protes dari Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) yang mengajukan banding, namun tidak berhasil. Balogun akhirnya menjadi starter di bawah asuhan pelatih Mauricio Pochettino dalam laga yang berakhir dengan kekalahan AS.
Menjelang pertandingan tersebut, FIFA juga mengeluarkan pernyataan 13 poin dari komite disiplinnya yang mengumumkan hukuman bagi Balogun dan Sepak Bola AS. Pelanggaran terjadi karena Balogun merayakan gol di lapangan setelah kartu merah, yang melanggar aturan FIFA. Akibatnya, Balogun dan Sepak Bola AS dikenakan denda.
Tidak jelas apakah skorsing terhadap Zapatka dan Pannell terkait langsung dengan insiden Balogun yang kembali ke lapangan setelah kartu merah atau denda yang dijatuhkan komite disiplin. Namun, Front Office Sports mencatat bahwa kedua ofisial ini adalah satu-satunya pejabat tim yang diskors FIFA selama Piala Dunia 2026.
Profil Sam Zapatka dan Frank Pannell
Sam Zapatka telah mengabdi untuk Sepak Bola AS selama 11 tahun. Ia memulai kariernya sebagai koordinator tim nasional dan naik jabatan menjadi manajer tim. Sementara itu, Frank Pannell memiliki latar belakang keamanan yang kuat. Sebelum bergabung dengan Sepak Bola AS, ia bekerja untuk Dinas Rahasia (Secret Service) dan CIA. Setelah itu, ia berkarier di bidang keamanan swasta hingga akhirnya menjabat sebagai wakil presiden keamanan di Sepak Bola AS.
Skorsing terhadap dua pejabat senior ini tentu menimbulkan tanda tanya besar, mengingat posisi mereka yang strategis dalam operasional tim. Manajer tim bertanggung jawab atas koordinasi perjalanan, akomodasi, dan logistik pemain, sementara wakil presiden keamanan mengawasi aspek keselamatan dan keamanan tim. Kehilangan dua tokoh kunci ini pada saat krusial jelang laga melawan Belgia bisa berdampak pada performa tim, meskipun belum ada bukti langsung.
Reaksi dan Dampak pada USMNT
Kekalahan 4-1 dari Belgia tentu menjadi pukulan bagi USMNT, terlepas dari isu internal. Namun, spekulasi mengenai skorsing ini menambah tekanan pada tim. Beberapa pengamat menilai bahwa situasi ini bisa menjadi distraksi yang tidak diinginkan, terutama dengan perhelatan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sepak Bola AS perlu segera memberikan klarifikasi untuk meredakan spekulasi.
Sementara itu, Federasi Sepak Bola Belgia yang sempat memprotes keputusan FIFA terkait Balogun mungkin merasa dibenarkan dengan adanya skorsing terhadap ofisial AS. Namun, tidak ada pernyataan resmi dari pihak Belgia mengenai hal ini.
Kesimpulan
Skorsing terhadap Sam Zapatka dan Frank Pannell oleh FIFA menjelang laga USMNT melawan Belgia masih diselimuti misteri. Meskipun ada kaitannya dengan kontroversi Folarin Balogun, belum ada konfirmasi resmi. Kedua ofisial ini adalah tokoh penting dalam struktur Sepak Bola AS, dan sanksi ini menimbulkan pertanyaan tentang tata kelola dan kepatuhan terhadap regulasi FIFA. Dengan Piala Dunia 2026 yang semakin dekat, Sepak Bola AS harus menangani masalah ini dengan transparan agar fokus tim tetap terjaga. Publik sepak bola Indonesia tentu menanti perkembangan lebih lanjut mengenai kasus ini, mengingat AS adalah salah satu tuan rumah Piala Dunia mendatang.
