Presiden FIFA Gianni Infantino

Ketegangan Meningkat di Antara FIFA dan UEFA

Ketegangan antara FIFA dan UEFA kembali memanas. Menurut laporan, FIFA diperkirakan akan menanggung biaya hukum Presiden Gianni Infantino jika UEFA mengambil tindakan hukum terhadapnya. Langkah ini disebut sebagai bentuk dukungan institusi kepada orang nomor satu di sepak bola dunia tersebut.

Laporan ini muncul di tengah situasi politik yang memanas menjelang pemilihan presiden FIFA. Infantino, yang saat ini menjabat sebagai presiden, menghadapi tekanan dari berbagai pihak, termasuk dari asosiasi sepak bola negaranya sendiri, Swiss.

Latar Belakang Konflik

Konflik antara FIFA dan UEFA bukanlah hal baru. UEFA, yang dipimpin oleh Aleksander Ceferin, telah lama menjadi kritikus vokal terhadap kepemimpinan Infantino. Kritik tersebut semakin keras setelah proposal kontroversial Infantino untuk menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta. Proposal itu gagal, namun meninggalkan luka yang dalam di hubungan antara kedua organisasi.

Ceferin bahkan melontarkan serangan pedas dengan mengutip dongeng Hans Christian Andersen, "The Emperor's New Clothes", dan menyerukan kepada klub-klub untuk mengatakan "cukup" dan menarik dukungan mereka untuk Infantino.

Tekanan dari Berbagai Front

Tekanan terhadap Infantino tidak hanya datang dari UEFA. Asosiasi Sepak Bola Swiss (SFV), negara asalnya, secara resmi menarik dukungannya untuk pencalonan Infantino dalam pemilihan presiden FIFA mendatang. Keputusan ini diumumkan setelah rapat dewan eksekutif SFV, yang menyatakan bahwa mereka "memutuskan untuk menarik dukungan yang telah dideklarasikan pada Juni 2026 untuk pencalonan Gianni Infantino sebagai presiden FIFA untuk periode berikutnya".

SFV juga menyampaikan harapan agar FIFA memenuhi standar tertinggi dalam hal transparansi, akuntabilitas, dan integritas kompetisi. Mereka menyoroti kekhawatiran tentang integritas kompetisi setelah tekanan dari Presiden AS Donald Trump terkait hukuman larangan bertanding untuk pemain depan tuan rumah bersama Piala Dunia, Folarin Balogun, dalam pertandingan babak 16 besar melawan Belgia awal tahun ini.

Selain itu, Rui Pinto, whistleblower di balik Football Leaks, melancarkan serangan keras terhadap Infantino. Pinto, yang dokumennya memicu investigasi Premier League terhadap Manchester City, menuduh Infantino membantu klub-klub elit menghindari regulasi keuangan selama masa jabatannya di UEFA. Pinto bahkan menyebut Infantino sebagai "kanker bagi sepak bola" dan menegaskan bahwa ia "tidak boleh memiliki tempat di masa depan sepak bola".

Dampak pada Pemilihan Presiden FIFA

Pemilihan presiden FIFA dijadwalkan pada Maret tahun depan. Hingga saat ini, Infantino adalah satu-satunya kandidat yang secara resmi mencalonkan diri. Namun, dengan hilangnya dukungan dari asosiasi nasionalnya sendiri dan meningkatnya kritik dari UEFA, posisinya semakin terancam.

UEFA dikabarkan telah memimpin seruan untuk mengganti Infantino, baik sebelum maupun pada pemilihan nanti. Mereka menganggap bahwa kepemimpinan Infantino telah merusak integritas FIFA dan sepak bola secara keseluruhan.

Respons FIFA

Meskipun belum ada pernyataan resmi dari FIFA terkait laporan biaya hukum ini, langkah tersebut dapat dilihat sebagai upaya untuk melindungi presidennya dari serangan hukum yang mungkin dilayangkan oleh UEFA. Jika benar, hal ini akan semakin memperuncing konflik antara kedua organisasi dan dapat mempengaruhi dinamika pemilihan presiden FIFA.

Kesimpulan

Situasi di FIFA semakin tidak stabil menjelang pemilihan presiden. Dengan hilangnya dukungan dari Swiss dan kritik tajam dari UEFA, posisi Infantino semakin terpojok. Laporan tentang FIFA yang akan menanggung biaya hukumnya jika UEFA mengambil tindakan hukum menambah dimensi baru dalam konflik ini. Publik sepak bola dunia menantikan perkembangan selanjutnya, termasuk bagaimana Infantino akan merespons tekanan yang terus meningkat.

By qnesx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *