FIFA akhirnya angkat bicara. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Sabtu (8/8/2026), FIFA membela presidennya, Gianni Infantino, terhadap apa yang mereka sebut sebagai "upaya terkoordinasi dan terus-menerus" untuk merusak kepemimpinannya di organisasi sepak bola dunia tersebut. Langkah ini diambil sehari setelah surat kabar Inggris, The Daily Telegraph, memuat laporan yang mempertanyakan paket pesangon yang dibayarkan UEFA kepada seorang staf wanita yang pernah bekerja dengan Infantino ketika ia masih menjabat sebagai sekretaris jenderal UEFA.
UEFA sendiri telah mengonfirmasi bahwa pembayaran "pesangon" memang dilakukan kepada karyawan tersebut dan menyebutnya "sesuai" dengan peraturan yang berlaku saat itu. Infantino menghabiskan 16 tahun bekerja di UEFA sebelum terpilih sebagai presiden FIFA pada 2016. Kini, kasus lama itu kembali mencuat dan menjadi amunisi bagi para kritikusnya.
FIFA Sebut Ada Upaya Sistematis
Dalam pernyataannya, FIFA dengan tegas menuduh para kritikus Infantino berusaha melemahkan otoritasnya dan menyingkirkannya dari jabatan tanpa melalui proses yang semestinya. FIFA menilai manuver ini tidak akan berhasil melalui jalur demokratis yang sudah ada di internal FIFA.
"Semakin jelas bahwa ada upaya terkoordinasi dan terus-menerus oleh sebagian pihak untuk merusak FIFA dan presidennya," demikian bunyi pernyataan FIFA. "Mereka yang tidak mendapatkan dukungan dari asosiasi anggota FIFA seharusnya tidak mencoba meraih apa yang mereka inginkan melalui tuduhan, sindiran, atau informasi yang menyesatkan, ketika mereka tidak mampu meraihnya melalui proses demokrasi FIFA yang sudah mapan."
Lebih lanjut, FIFA juga menyoroti pemberitaan yang dianggapnya memuat "pernyataan tanpa dasar dan klaim yang terbukti salah" yang seharusnya tidak disajikan sebagai fakta. FIFA menekankan bahwa perubahan yang terjadi di bawah kepemimpinan Infantino memang menantang kepentingan yang sudah mapan, tetapi ketidaksetujuan terhadap perubahan itu tidak boleh menjadi alasan untuk merusak mandat demokratis presiden FIFA atau institusi yang dipimpinnya.
Latar Belakang Tuduhan
Laporan The Daily Telegraph tersebut mengangkat kembali soal pembayaran pesangon yang diberikan UEFA kepada seorang staf wanita. Staf tersebut dikabarkan bekerja erat dengan Infantino ketika ia menjabat sebagai sekretaris jenderal UEFA. Meski UEFA membenarkan pembayaran itu, mereka menegaskan bahwa pembayaran tersebut sudah sesuai dengan regulasi yang berlaku untuk staf yang mengundurkan diri pada masa itu.
Namun, UEFA juga mengakui bahwa aturan tersebut telah diperketat sejak 2016 dan kini mencerminkan standar yang lebih modern untuk organisasi profil tinggi. Pernyataan ini seolah mengisyaratkan bahwa praktik di masa lalu mungkin tidak lagi relevan dengan standar saat ini.
Momentum yang Tidak Menguntungkan
Keluarnya pernyataan FIFA ini terjadi di tengah tekanan yang tengah dihadapi Infantino. Beberapa waktu terakhir, ia mendapat kecaman keras setelah rencananya untuk menjual sebagian keuntungan Piala Dunia kepada investor swasta (private equity) terungkap ke publik. Rencana kontroversial ini ditolak mentah-mentah oleh UEFA dan dua konfederasi benua lainnya, yakni CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia) serta AFC (Asia).
Meski demikian, Infantino masih mendapat dukungan dari dewan manajemen FIFA dalam pertemuan yang digelar di Maroko pada Rabu (5/8/2026). Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan permintaan maaf atas proses yang dianggap kurang transparan. Namun, sikap UEFA tetap keras. Mereka bahkan sempat mengancam akan memboikot kompetisi FIFA jika rencana tersebut tidak dibatalkan. UEFA menegaskan bahwa pengumuman dari FIFA pada Kamis (6/8/2026) "tidak mengubah apa pun".
Analisis: Pertarungan Politik di Balik Layar
Kasus ini sebenarnya bukan sekadar soal pesangon seorang staf UEFA, melainkan lebih kepada pertarungan politik antara FIFA dan UEFA, serta kekuatan-kekuatan lain yang ingin melihat perubahan arah di tubuh organisasi sepak bola dunia. Infantino, yang terpilih kembali tanpa lawan pada 2023, memang kerap menghadapi kritik terkait gaya kepemimpinannya yang dianggap terlalu ambisius dan kurang transparan.
Rencana penjualan keuntungan Piala Dunia yang memicu kemarahan UEFA menunjukkan adanya perbedaan visi yang tajam antara FIFA dan konfederasi Eropa. UEFA, dengan 55 asosiasi anggotanya, merupakan salah satu kekuatan terbesar di FIFA. Jika mereka benar-benar memboikot kompetisi FIFA, dampaknya akan sangat besar.
Pernyataan FIFA yang menuding adanya "upaya terkoordinasi" untuk menjatuhkan Infantino bisa dibaca sebagai sinyal bahwa presiden FIFA itu tidak akan mundur atau tunduk pada tekanan. Ia tampaknya ingin menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki legitimasi kuat, terutama setelah mendapatkan dukungan dari dewan manajemen FIFA.
Namun, tuduhan terkait pesangon ini bisa menjadi bumerang. Meski UEFA telah menyatakan bahwa pembayaran tersebut legal, publik dan media tetap bisa mempertanyakan etika di balik keputusan itu. Terlebih, isu ini muncul saat Infantino sedang berusaha memperbaiki citra setelah kegaduhan rencana investasi swasta tadi.
Dukungan untuk Infantino
Di tengah badai kritik, Infantino sebenarnya tidak sendirian. Selain mendapat dukungan dari dewan manajemen FIFA, ia juga diyakini masih memiliki banyak pendukung di antara asosiasi anggota FIFA, terutama dari negara-negara berkembang yang merasa mendapatkan manfaat dari program-program FIFA di bawah kepemimpinannya.
FIFA dalam pernyataannya juga mengingatkan bahwa perubahan yang dibawa Infantino telah memberikan dampak positif bagi banyak negara. "Perubahan pasti menantang kepentingan yang sudah mapan, tetapi ketidaksetujuan terhadap perubahan itu tidak dapat membenarkan upaya untuk merusak mandat demokratis presiden FIFA atau institusi yang ia pimpin," demikian tegas FIFA.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Hingga saat ini, belum ada tanggapan lebih lanjut dari Infantino secara pribadi terkait tuduhan pesangon tersebut. Namun, dengan dukungan dari dewan manajemen FIFA, ia tampaknya akan terus melanjutkan kepemimpinannya. Pertanyaannya, apakah UEFA akan benar-benar menjalankan ancaman boikotnya? Jika ya, maka sepak bola dunia akan memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian.
Sementara itu, investigasi jurnalistik The Daily Telegraph dikabarkan masih akan terus berlanjut. Bukan tidak mungkin akan ada temuan-temuan baru yang semakin memanaskan situasi. Publik sepak bola dunia tentu berharap semua masalah ini dapat diselesaikan dengan kepala dingin demi kepentingan olahraga yang paling populer di muka bumi ini.
Penutup
Kontroversi yang membelit Gianni Infantino kali ini menunjukkan bahwa jabatan presiden FIFA tidak pernah sepi dari gejolak. Tuduhan lama yang kembali mencuat, ditambah dengan perseteruan dengan UEFA, menempatkan Infantino pada posisi yang tidak nyaman. Namun, pernyataan tegas FIFA menunjukkan bahwa mereka siap bertahan menghadapi segala upaya yang dianggap mencoba menggulingkan presidennya.
Pada akhirnya, semua pihak akan menunggu bagaimana kelanjutan kasus ini. Apakah tuduhan pesangon akan mereda atau justru semakin memanas? Dan apakah ancaman boikot UEFA akan benar-benar dijalankan? Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, sepak bola dunia saat ini sedang berada dalam situasi yang rapuh, dan semua keputusan yang diambil dalam waktu dekat akan menentukan arah organisasi ini ke depan.
