Pendahuluan
Lagu 'Football's Coming Home' kembali harus ditunda nyanyiannya. Inggris kembali menelan pil pahit di Piala Dunia setelah dikalahkan Argentina 2-1 di semifinal 2026 di Atlanta. Kekalahan ini menambah panjang daftar kekecewaan The Three Lions yang sudah berlangsung selama 60 tahun sejak gelar juara 1966.
Namun, dari sekian banyak patah hati, mana yang paling perih? Mari kita ranking lima kekalahan paling menyakitkan Inggris di Piala Dunia berdasarkan konteks, ekspektasi, dan cara kekalahan.
5. Semifinal Piala Dunia 2018: Inggris 1-2 Kroasia
Piala Dunia 2018 di Rusia menjadi ajang kebangkitan Inggris di bawah Gareth Southgate. Sebagai manajer muda dengan skuad yang minim bintang, Southgate berhasil membawa Inggris ke semifinal setelah melewati babak yang relatif mudah.
Awal yang Menjanjikan
Inggris unggul cepat lewat tendangan bebas Kieran Trippier di menit kelima. Namun, Kroasia yang diperkuat lini tengah kelas dunia—Luka Modrić, Ivan Rakitić, dan Marcelo Brozović—mulai mendominasi penguasaan bola. Inggris kesulitan mempertahankan ritme permainan.
Pukulan di Perpanjangan Waktu
Kroasia menyamakan skor melalui Ivan Perišić di babak kedua, lalu memastikan kemenangan lewat gol Mario Mandžukić di menit 109. Inggris tersingkir dengan cara yang menyakitkan, tetapi karena ekspektasi yang rendah, kekalahan ini tidak terlalu menyakitkan dibanding yang lain. Southgate tetap dianggap berhasil membangun fondasi tim.
4. Babak 16 Besar Piala Dunia 1998: Inggris 2-2 Argentina (3-4 adu penalti)
Pertandingan ini selamanya akan diingat sebagai 'kartu merah David Beckham'. Inggris bertemu Argentina di Saint-Étienne dan babak pertama berlangsung sengit dengan skor 2-2. Namun, di menit 47, Beckham terpancing tendangan kecil ke arah Diego Simeone dan diusir wasit.
Perjuangan 10 Pemain
Meski bermain dengan 10 orang, Inggris hampir menang setelah gol Sol Campbell dianulir. Pertandingan berlanjut ke adu penalti. Paul Ince dan David Batty gagal mengeksekusi, membuat Argentina melaju. Beckham menjadi kambing hitam nasional setelah kembali ke Inggris, meski sebenarnya ia telah menjadi korban provokasi.
3. Perempat Final Piala Dunia 1986: Inggris 1-2 Argentina
Pertandingan ini identik dengan dua momen legendaris Diego Maradona: 'Tangan Tuhan' dan 'Gol Abad Ini'. Dalam waktu empat menit di babak kedua, Maradona mencetak gol kontroversial dengan tinjunya, lalu melewati lima pemain Inggris untuk gol kedua yang spektakuler.
Kekecewaan yang Diperparah Keajaiban Lawan
Gary Lineker memperkecil kedudukan di menit 81, tapi Inggris tetap kalah. Yang membuatnya perih adalah rasa tidak adil—gol pertama ilegal, namun gol kedua begitu indah sehingga sulit marah. Argentina akhirnya menjadi juara dunia, memperdalam luka Inggris.
2. Semifinal Piala Dunia 1990: Inggris 1-1 Jerman Barat (3-4 adu penalti)
Ini adalah adu penalti pertama yang dialami Inggris di Piala Dunia dan menjadi awal trauma penalti berkepanjangan. Di Italia 1990, Jerman unggul melalui tendangan bebas Andreas Brehme yang melenceng, lalu Linekar menyamakan skor di menit 80.
Adu Penalti Pertama yang Menentukan Tradisi
Setelah perpanjangan waktu tanpa gol, adu penalti pun digelar. Jerman mengeksekusi semua empat penalti dengan sempurna. Namun, Stuart Pearce dan Chris Waddle gagal. Kekalahan ini menanamkan trauma penalti yang baru terpecahkan saat Southgate berhasil mengalahkan Kolombia di Piala Dunia 2018.
1. Semifinal Piala Dunia 2026: Inggris 1-2 Argentina
Kekalahan terbaru ini menduduki puncak daftar paling menyakitkan. FA Inggris merekrut Thomas Tuchel sebagai pelatih dengan harapan ia bisa membawa mentalitas juara. Sepanjang turnamen, Inggris tampil meyakinkan: mengalahkan Kroasia, Meksiko, dan Norwegia. Tuchel dipuji karena kecerdasan taktiknya.
Awal yang Gemilang, Akhir yang Tragis
Inggris unggul lebih dulu di menit 55 melalui gol yang dicetak setelah serangan brilian. Namun, alih-alih terus menekan, Inggris justru mundur. Tuchel melakukan pergantian defensif yang kontraproduktif. Lionel Messi, yang sebelumnya diam, mulai mengendalikan permainan.
Dua Gol di Menit Akhir
Argentina menyamakan skor di menit 85, lalu mencetak gol kemenangan di menit 90+2. Kekalahan ini terasa lebih pahit karena sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan sendiri: terlalu defensif, terlalu takut. Padahal, skuad Inggris kali ini dianggap yang paling berbakat dalam beberapa dekade.
Penutup
Kekalahan demi kekalahan telah membentuk identitas sepak bola Inggris: tim yang selalu 'hampir' tetapi tidak pernah 'sampai'. Dari tangan Maradona hingga kartu merah Beckham, dari trauma penalti hingga kegagalan Tuchel, cerita Inggris di Piala Dunia adalah cerita tentang harapan yang berulang kali dipatahkan.
Setiap generasi memiliki cerita pahitnya sendiri. Namun, jika ada satu hal yang konsisten, itu adalah keyakinan bahwa suatu hari nanti—mungkin di Piala Dunia 2030—'sepak bola akan pulang ke rumah'. Untuk saat ini, Inggris hanya bisa menunggu dan menderita sekali lagi.
