Pembuka
Kabar bergabungnya Abdulqadous Attiah, penjaga gawang Al-Ula, ke dalam skuad timnas Arab Saudi untuk turnamen Piala Teluk Arab "Khaleeji 27" bukan sekadar pemanggilan biasa. Ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang penuh liku, dari titik terendah hingga kejayaan. Pelatih asal Yunani, Georgios Donis, yang menjabat sebagai direktur teknik timnas Arab Saudi, mengumumkan pemanggilan Attiah untuk menggantikan Nawaf Al-Aqidi yang cedera. Kehadiran Attiah di turnamen ini menjadi penutup dari kisah inspiratif seorang kiper yang pernah dianggap sebagai penerus masa depan, lalu meredup, dan kini kembali bersinar.
Awal Karier dan Debut di Timnas
Bagi Attiah, Piala Teluk bukanlah hal baru. Turnamen inilah yang menjadi saksi pemanggilan pertamanya ke skuad timnas Arab Saudi pada usia 20 tahun. Pada Piala Teluk 23 di Kuwait tahun 2017, pelatih asal Kroasia Kronoslav Jurcic, yang memimpin timnas secara sementara, memutuskan untuk memanggil sang kiper muda sebagai bagian dari enam pemain muda dari timnas bakat. Meski tidak tampil di satu pun pertandingan, turnamen tersebut tetap menjadi tonggak penting dalam kariernya, terutama di level internasional.
Setelah turnamen berakhir, Attiah menjalani debutnya bersama timnas Arab Saudi di bawah asuhan pelatih asal Argentina, Juan Antonio Pizzi. Ia masuk sebagai pemain pengganti dalam kekalahan uji coba 1-4 dari Irak di Basrah pada Februari 2018. Momen itu menjadi awal yang bersejarah bagi kiper muda tersebut.
Murid Oliver Kahn
Sebelum debutnya bersama timnas, Attiah mendapat kesempatan berharga untuk belajar dari legenda Bayern Munich dan timnas Jerman, Oliver Kahn. Pada Januari 2018, setelah Piala Teluk 23 dan sebelum laga persahabatan melawan Irak, timnas Arab Saudi menggelar pemusatan latihan khusus untuk para penjaga gawang di Kota Stuttgart, Jerman. Di bawah bimbingan Kahn, Attiah merasakan langsung ilmu dari salah satu kiper terbaik dunia. Pengalaman itu menjadi bekal berharga dalam perjalanan kariernya.
Setelah pemusatan latihan, Attiah sempat dikontrak oleh Al-Feiha sebagai langkah baru. Namun, kariernya tidak berjalan mulus. Ia hanya bertahan setengah musim di Al-Feiha sebelum pindah ke Al-Wehda, tempat ia menghabiskan enam tahun. Selama di Al-Wehda, ia turut berkontribusi mengembalikan klub ke Liga Roshn, dengan diselingi peminjaman satu musim ke Al-Adalah. Semua berjalan biasa saja hingga sebuah momen pahit terjadi.
Ejekan Ronaldo yang Menjadi Titik Balik
Pada 9 Februari 2023, Cristiano Ronaldo, kapten Al-Nassr, menorehkan sejarah dengan super hat-trick tercepat dalam sejarah Liga Arab Saudi. Sayangnya, momen bersejarah itu terjadi di atas penderitaan Attiah. Al-Wehda kalah dari Al-Nassr, dan Ronaldo mencetak empat gol. Attiah menjadi sorotan utama, menuai kritik pedas dari suporter serta media lokal dan internasional, bahkan sampai pada level ejekan.
Meski demikian, muncul banyak kampanye untuk mendukung Attiah. Namun, menurut sumber, pendukung terbesarnya justru adalah kampanye ejekan itu sendiri. Ejekan tersebut mendorongnya untuk melangkah beberapa tahap ke depan, hingga mencapai posisinya sekarang. Attiah bangkit dan menjadikan cibiran sebagai bahan bakar untuk memperbaiki diri.
Perjalanan Klub dan Keyakinan Donis
Setelah kontraknya dengan Al-Wehda berakhir pada 2024, Attiah pindah ke Al-Taawoun dengan status transfer bebas. Namun, ia hanya bertahan dua musim sebelum hengkang. Kepergiannya bukan menuju sembarang tempat, karena ia menjadi pilihan klub Al-Ula yang berlaga di Liga Divisi Satu Arab Saudi. Al-Ula mengandalkannya untuk membawa mereka promosi ke Liga Roshn untuk pertama kalinya dalam sejarah, setelah sebelumnya nyaris mencapainya pada musim lalu sebelum kalah dari Al-Diriyah pada laga penentuan. Attiah juga didatangkan sebagai pengganti kiper senior Mohammed Al-Owais yang pindah ke Al-Hilal.
Sejak menjadi direktur teknik timnas Arab Saudi, Georgios Donis menunjukkan keyakinan besar terhadap Attiah. Ia memasukkannya ke dalam pemusatan latihan terakhir Arab Saudi menjelang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Pemanggilan Attiah cukup mengejutkan, terlebih ia merupakan pemain dengan menit bermain paling sedikit dalam daftar timnas, hanya tampil 90 menit bersama Al-Taawoun pada musim lalu. Meski akhirnya dicoret dari daftar akhir Piala Dunia, ia dengan cepat kembali dipanggil ke skuad untuk Piala Teluk 27 setelah Nawaf Al-Aqidi cedera. Ini membuktikan kepercayaan Donis kepadanya.
Penutup
Kiper berusia 29 tahun ini kembali ke daftar timnas Arab Saudi setelah absen selama delapan tahun penuh. Perjalanannya menegaskan bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan, dan cibiran bisa menjadi awal dari jalan menuju puncak. Dari murid Oliver Kahn, korban ejekan Ronaldo, hingga kembali memperkuat timnas, kisah Abdulqadous Attiah adalah bukti ketangguhan dan kerja keras.
